Penggalan Jurnal Kehidupan, Kisah, Inspirasi, Informasi, Tips, Opini

Minggu, 03 Juni 2018

Branding Produk

Dalam bahasa Indonesia kata "brand" dan "branding" memiliki makna yang berbeda. Bila kata brand berarti “merek”, maka branding memiliki pengertian “segala aktivitas komunikasi yang dilakukan oleh perusahaan untuk tujuan membangun dan membesarkan suatu merek dari suatu produk atau jasa”.

Branding suatu produk adalah aktivitas yang sifatnya kontinyu dan penuh dengan inovasi-inovasi. Adalah suatu kesalahan jika berfikir bahwa “suatu produk yang sudah dikenal luas atau sudah mencapai target penjualan, maka proses branding terhadap produk tersebut sudah selesai”.
Sementara di saat yang sama, para kompetitor terus menerus memacu inovasi kreatif untuk dapat berada di puncak persaingan. Hal ini yang menyebabkan inovasi terhadap branding suatu produk tidak boleh berhenti dan seharusnya dilakukan secara kontinyu, terstruktur, kreatif, dan terukur.


Pengertian Branding Menurut Para Ahli :

Kotler (2009)
Menurut Kotler, pengertian branding adalah pemberian nama, istilah, tanda, simbol, rancangan, atau kombinasi dari kesemuanya, yang dibuat dengan tujuan untuk mengidentifikasikan barang atau jasa atau kelompok penjual dan untuk membedakan dari barang atau jasa pesaing.

Landa (2006)
Menurut Landa, pengertian branding adalah bukanlah sekedar merek atau nama dagang dari sebuah produk, jasa, atau perusahaan. Namun semuanya yang berkaitan dengan hal-hal yang kasat mata dari sebuah merek mulai dari nama dagang, logo, ciri visual, citra, kredibilitas, karakter, kesan, persepsi, dan anggapan yang ada di benak konsumen perusahaan tersebut.


Jenis-Jenis Branding :

1. Cultural Branding

Merupakan usaha pemberian identitas atau merek yang disesuaikan dengan keadaan reputasi suatu bangsa atau orang-orang dari daerah tertentu.

2. Product Branding

Merupakan usaha pemberian identitas pada sebuah produk yang mampu memengaruhi konsumen untuk memilih produk tersebut dibandingkan produk pesaing lainnya.

3. Geographic Branding

Sebuah usaha pemberian identitas yang memiliki tujuan dalam memunculkan gambaran dari produk atau jasa yang identik dengan nama sebuah lokasi sehingga bila lokasi itu disebut maka orang akan langsung mengingat brand tersebut.

4. Personal Branding

Usaha yang digunakan oleh perseorangan untuk menjadikan diri mereka sebagai brand yang dikenal dan diingat sehingga memiliki penilaian atau pandangan tersendiri dari masyarakat umum. Contoh personal branding adalah artis, pemusik, ataupun orang-orang terkenal lainnya.

5. Corporate Branding

Aspek branding dari sebuah perusahaan yang dimulai dari produk yang ditawarkan hingga kontribusi pegawai perusahaan terhadap masyarakat.


Unsur-Unsur Branding :

1. Nama Merek
Nama adalah hal pertama yang harus dipenuhi jika kita akan melakukan branding. Tanpa sebuah nama, maka produk tidak akan memiliki identitas yang akan memudahkannya untuk dikenali masyarakat.

2. Logo (logo type, monogram, bendera)
Dalam pembuatan logo, perhatikanlah faktor keunikan dan image yang sesuai dengan brand. Logo yang unik akan meninggalkan kesan tak terlupakan bagi konsumen.

3. Tampilan Visual
Tampilan visual ini bisa diaplikasikan pada desain produk, desain kemasan, desain seraga, dan lain sebagainya. Menggunakan tampilan visual dengan warna-warna yang cerah atau elegan akan menambah pencitraan terhadap sebuah produk.

4. Penggunaan Juru Bicara
Juru bicara dalam hal ini bisa jadi seorang co-founder dari perusahaan, maskot, tokoh perusahaan, atau orang terkenal yang telah diajak bekerja sama untuk meningkatkan pemasaran produk.

5. Suara (lagu tematik)
Kehadiran sebuah lagu akan melengkapi unsur visualisasi branding dan membuatnya lebih indah dan lebih diingat.

6. Kata-kata (slogan, tagline, jingle, akronim)
Slogan yang cerdas selalu meninggalkan kesan mendalam. Dalam proses pembuatan brand, gunakan kata- kata yang memiliki unsur ceria dan positif, mudah diingat, dan beda dari brand lain.


Jadi kegiatan branding tidak hanya berpusat pada produk yang ingin di sampaikan. Tapi juga memanfaatkan hal-hal di luar produk demi meningkatkan citra produk yang baik.
Disinilah bagian dari mindset kreatif harus diterapkan.

Bila melihat sebuah iklan rokok misalnya, rokok sebagai produk utama tidak pernah di gambarkan secara explisit. Iklan tersebut berusaha menaikan citra sebuah produk dengan memanfaatkan hal-hal di luar produk tersebut.
Itulah fokus utama dari setiap perjalanan branding.

Share:

Selasa, 31 Desember 2013

Pekerja Keras atau Penggila Kerjakah Anda?

Sebenarnya, ada dua tipe pekerja yang aktif, yaitu pekerja keras dan penggila kerja. Kedua tipe pekerja itu jelas berbeda. Seorang pekerja keras mengutamakan pekerjaannya selesai dan benar-benar total mengerjakannya. Sementara seorang penggila kerja akan mengerjakan pekerjaannya tanpa paksaan atau tidak takut pada kerjaan yang menumpuk. Mereka malah senang mengerjakannya meski sudah lewat jam kerja.
Meski begitu, dibandingkan pekerja keras, penggila kerja tidaklah sehat. Pekerja keras dikatakan lebih sehat karena mereka terkendali dan dapat dilakukan setiap hari. Sebaliknya, sifat workaholic sebaiknya tak muncul tiap hari karena akan mengganggu kesehatan dan kesulitan bersosialisasi.

Jika dilihat dari jam kerjanya, jam kerja efektif seorang pekerja keras berkisar antara 40 sampai 50 jam per minggu. Ini pun amat membutuhkan intensitas dan konsentrasi ekstra yang sangat tinggi di tempat kerja. Sementara seorang workaholic rata-rata bekerja hingga 90 jam per minggu, tapi kebanyakan tidak efektif.

Bagi kebanyakan orang yang bertipe workaholic, mereka menganggap bekerja itu mengasikkan (fun), sama seperti mereka ketika sedang bermain. Akan tetapi, bukan berarti tidak boleh mengenal lelah. Terlalu senang bekerja hingga tak kenal lelah bisa menimbulkan berbagai hal buruk, tak terkecuali kematian.

Ada enam hal buruk yang bisa muncul dari kebiasaan gemar kerja secara berlebihan:

1. Lupa Caranya Santai

Orang yang terlalu berlebihan dalam bekerja akan kesulitan untuk bersantai. Kelelahan yang dihasilkan dari bekerja menyebabkan orang susah tidur, berat badan terganggu, hingga tekanan darah meningkat.

2. Pola Makan Jadi Tak Teratur

Mereka yang bekerja secara belerbihan cenderung tidak mengatur pola makannya. Di samping itu, jadi lebih sering memilih makanan cepat saji dibanding makanan sehat. Hal itu berdampak buruk ke tubuh.

3. Lupa Tidur

Bekerja secara berlebihan bisa membuat orang lupa tidur. Tidur yang kurang dari enam-delapan jam per hari bisa menyebabkan gangguan ingatan, kesulitan berkonsentrasi, dan obesitas.

4. Kurang Olahraga

Tidak hanya membuat orang lupa makan, lupa tidur dan lupa santai, orang yang terlalu memprioritaskan pekerjaan di atas segalanya juga cenderung lupa olahraga. Padahal, olahraga penting untuk menjaga kondisi tubuh ke depannya.

5. Jadi Gemar Minum Minuman Keras

Dalam sejumlah kasus, mereka yang gemar bekerja juga gemar mengkonsumsi alkohol. Alkohol dianggap sebagai pelarian yang tepat saat kelelahan. Padahal, alkohol memilik efek buruk, terutama bagi jantung.

6. Tak Kenal Sakit dan Lelah

Mereka yang terlalu gemar bekerja cenderung tidak peduli akan kondisi sendiri. Walhasil, sakit dan lelah pun tak dianggap sebagai hal yang patut diperhatikan.

Dibawah ini adalah beberapa kebiasaan utama seorang workaholic :

1. Hanya berpikir untuk bekerja

Workaholic hanya berpikir keras untuk menyelesaikan pekerjaannya. Mereka cenderung jarang berinteraksi untuk bersosialisasi dengan orang lain. Jika berlibur, mereka tidak akan lupa untuk membawa sedikit pekerjaan untuk dikerjakan kemudian.

2. Kurang percaya untuk mendelegasikan tugas

Workaholic merasa tidak nyaman untuk mendelegasikan tugas begitu saja tanpa kontrol langsung darinya. Bahkan, waktunya dihabiskan untuk mengontrol pekerjaan mereka yang seharusnya didelegasikan dan dipercayakan kepada orang lain.

3. Melupakan aspek lain di dalam hidup

Prioritas utama seorang workaholic adalah pekerjaan. Seorang workaholic bisa saja melupakan agenda penting di dalam hidupnya karena terlalu keras bekerja.

4. Semua jadi satu dalam pekerjaan

Banyak orang beranggapan bahwa mereka harus memaksa diri semaksimal mungkin, bahkan hingga ke titik menyiksa diri agar bisa sukses. Padahal, hal itu berpengaruh pada kondisi tubuh saat ini dan ke depannya.

Namun demikian seorang workaholic bisa membuat hobi mereka, waktu mereka untuk bersenang-senang, menjadi suatu pekerjaan alias lahan bisnis mereka.


Share:

Jumat, 31 Mei 2013

Simplicity Itu Bukan Hal Sepele Bro...

Berawal dari kritikan seorang teman kerja kepada teman kerja gue yang lain untuk membuat simple sebuah project yang tengah dikerjakan, maka gue tergelitik untuk menulis posting ini. Karena betapa tidak, hanya dari kata simple tersebut akhirnya merembet ke perdebatan yang tidak sederhana lagi. Dan setelah project selesai ungkapan “bikin simple saja...” tersebut seolah menjadi bahan joke di tempat kerja yang melahirkan julukan baru “Simple Man” yang merujuk kepada teman gue tersebut.

Beberapa pakar marketing mengatakan bahwa seringkali bisnis hebat justru lahir dari produk yang sepele dan sederhana, yang kemudian dibungkus dengan berbagai macam dramatisasi dan berbagai trik marketing lainnya.

Lihatlah Starbucks yang sebenarnya hanyalah jualan kopi. Fedex, DHL, JNE dan TIKI yang hanyalah mengantarkan barang sampai tujuan. Lihat pula Teh Botol yang hanya menjual produk teh di dalam botol, atau bahkan Aqua yang hanya air putih dalam kemasan botol plastik.

Yup, begitu banyak orang yang terjebak pada pemikiran bahwa simple itu gampang. Padahal untuk menghasilkan bisnis hebat yang awalnya terlihat sepele, justru di belakangnya tersimpan kerumitan yang mungkin tak terbayangkan sebelumnya. Aktivitas yang mendukung bisnis yang terlihat simple itu justru jauh lebih rumit daripada produk yang dijual. Dan banyak praktisi marketing sudah mengalami sendiri bagaimana repotnya mengurus aktivitas di belakang layar tersebut.

Lihatlah wajah manusia yang cantik, tampan, manis, cute, babyface atau apapun, sebenarnya adalah bungkus atau chasing yang menutupi tengkorak, dan didalam tengkorak ada otak, ada syaraf, otot dan sebagainya yang bekerja terus menerus dan sangat sangat rumit dan kompleks, namun kerumitan kompleksitas ini menawarkan hasil yang sempurna dipermukaan. Manusia bisa dengan sangat mudah berekspresi apapun, seperti tersenyum, mengerlingkan mata, menggerakan mulut, yang mana semua itu dapat dinikmati dengan melihat chasingnya saja tanpa harus melihat kompleksitas bagaimana semua elemen itu bekerja dan saling bereaksi bukan?

Yang perlu kita garis bawahi adalah bahwa kesederhanaan atau simplicity, itu tidak serta-merta identik dengan keremehan. Upaya menyederhanakan sama sekali bukan hal yang sepele. Dalam kenyataannya pun setiap hari kita berusaha menyederhanakan berbagai hal. Sebab simplicity yang benar adalah simplicity yang enscapsulating complexity, maka kemudahan harus menjadi interface yang menyembunyikan kompleksitas atau kemudahan harus menjadi bungkus dari sebuah kerumitan.

Jadi jelas ‘menyederhanakan’ itu tidak sama dengan ‘menyepelekan’. Menyepelekan itu dekatnya dengan sikap sombong, awalnya menyepelekan, kemudian diikuti dengan kesombongan bahwa “yang lain itu keciiilll”, “saya pasti benar”, “saya yang paling…”, “saya...” dan “saya...”, egoisme akut yang berujung pada keangkuhan, kesombongan, alias takabur.

Berapa banyak sudah yang gagal dan terjerumus hanya karena ‘menyepelekan’. Kasus tuntutan terhadap Mcdonalds yang seolah ‘menyepelekan’ teh panas yang dijualnya tanpa karton tambahan yang melindungi customer dari panas akhirnya berbuah tuntutan terhadap bisnis McDonalds, beberapa raksasa bisnis yang menyepelekan kompetitor kecilnya dan tiba-tiba begitu terkejutnya melihat sedemikian kuat kompetitor tersebut mengepung core market mereka, atau kurang bagaimana saleh dan taatnya iblis di mata Tuhan, ratusan ribu tahun bersujud, tapi hanya karena ‘menyepelekan’ yang melahirkan sikap sombong, akhirnya terkutuk.

Kembali ke ‘Simple Man’, tentu yang dimaksud teman gue tersebut adalah menyederhanakan project yang tengah digarap agar hasilnya bisa user friendly, hanya saja tentu tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan. Seperti yang dikatakan Leonardo da Vinci, “Simplicity is the ultimate sophistication”.


Share:

Rabu, 15 Mei 2013

Menebar Cerita Luar Biasa Lewat Wewangian

Wangi tubuh merupakan suatu daya pikat tersendiri yang dapat menarik lawan jenis atau laksana dejavu yang mampu menimbulkan kembali memori masa lalu dari sebuah plot kenangan tertentu.



Dari sudut estetika wewangian bisa menggambarkan keindahan, dan secara kejiwaan unsur ini menimbulkan perasaan sempurna pada wanita. Namun yang pasti, wewangian memang mampu memuaskan indera penciuman.

Riwayat parfum berkaitan erat dengan sejarah umat manusia. Kata "perfume" sendiri berasal dari bahasa Latin "per fumum" yang berarti melalui asap. Sejak zaman prasejarah, manusia telah menambah kelezatan pada makanannya dengan membakar minyak dan kayu beraroma.

Kisah kecantikan seorang Ratu Mesir bernama Cleopatra hingga Julius Caesar pun bertekuk lutut dihadapannya. Dan karena kecantikan sejalan dengan wewangian, maka seperti apakah harum parfum seorang Cleopatra yang sangat mempesona itu? Parfum tersebut diperkirakan dibuat dari bahan kemenyan yang diimpor dari wilayah yang kini disebut Somalia. Saat itu kemenyan sangat bernilai dan hanya dipakai di lokasi pemujaan dan lingkungan kerajaan. Orang-orang Mesir kuno di zaman itu menghormati para dewanya dengan kemenyan, salep dan minyak wewangian. Semua menjadi bagian penting kegiatan keagamaan dan keindahan wanita dan pria.

Bagaimana dengan parfum tradisional Indonesia tempo doeloe? Tentunya masyarakat Indonesia sudah gak asing lagi dengan wewangian floral dari melati, mawar, cengkeh, pandan, cendana, hingga gula aren bukan?

Anda ingat cerita seorang pemuda miskin dalam film Perancis berjudul "Parfume"? Jean-Baptiste Grenouille yang bekerja di penyamakan kulit, terpaksa harus disandera rasa penasaran yang luar biasa ketika mencium parfum di tengah perjalanannya ke kota. Grenoulle sibuk menggali memori di balik tebaran wewangian dari sekitarnya. Hingga ia menguasai dunia dengan sebotol kecil parfum yang dikantonginya. Hanya sebotol kecil, tidak sampai setengah liter. Hanya dengan itu saja, orang-orang akan memujanya dimanapun dia berada.

Lain lagi kisah Abu Ahmed, pemilik toko Stay Stylish, begitu cerdik memasukkan sebuah cerita ke dalam botol parfum. Di antara sekian produksi parfum yang ia hasilkan, mungkin M75 adalah salah satu merek parfum yang akan dinobatkan sebagai legenda. Warga Palestina memburunya setiap saat. Parfum ini seolah menjadi penghibur akhir tahun yang sempurna. Membuat seluruh warga Palestina seolah mendengar cerita-cerita kemenangan di balik wewangian M75.

Maka parfum tidak lagi berfungsi sebagai wewangian saja, namun juga tukang cerita, jembatan antara manusia dan cerita di balik moment-moment spesialnya. Dan ketika parfum telah berubah fungsi menjadi tukang cerita, maka bersiaplah mengenang segala yang manis dari setiap wewangian yang Anda cium.

Jika Cleopatra membuat Julius Caesar bertekuk lutut dihadapannya, Grenouille menguasai dunia dengan sebotol kecil parfum, M75 memperdengarkan cerita-cerita kemenangan warga Palestina, dan kearifan budaya tradisional kita dengan wewangian floral yang khas, lalu apa cerita dari parfum Anda?

Yang pasti apa pun ceritanya, terimakasih untuk Anda yang menebar parfum hari ini. Anda, begitu pula Cleopatra, dan yang lainnya, telah menebar banyak cerita yang luar biasa.

Share: