Leaving On A Jet Plane












All my bags are packed, I'm ready to go
I'm standing here outside your door
I hate to wake you up to say goodbye

But the dawn is breaking, it's early morning
The taxi is waiting, he is blowing his horn
Already I'm so lonesome, I could cry

So kiss me and smile for me
Tell me that you wait for me
Hold me like you never let me go

I'm leaving on a jetplane
I don't know when I'll be back again
Oh babe, I hate to go

There is so many times I've let you down
So many times I've played around
I tell you now, they don't mean a thing

Every place I go I think of you
Every song I sing I sing for you
When I come back I wear your wedding ring

So kiss me and smile for me
Tell me that you wait for me
Hold me like you never let me go

I'm leaving on a jetplane
I don't know when I'll be back again
Oh babe, I hate to go

Now the time has come to leave you
One more time let me kiss you
Close your eyes and I'll be on my way

Dream about the days to come
I won't have to leave alone
And I won't have to say

So kiss me and smile for me
Tell me that you wait for me
Hold me like you never let me go

I'm leaving on a jetplane
I don't know when I'll be back again
I'm leaving on a jetplane
I don't know when I'll be back again

I'm leaving on a jetplane
I don't know when I'll be back again
Oh babe, I hate to go



Read More..

Inilah Aku Sebenarnya (Karena Aku Menyayangimu)

Penggalan Gemerisik Ilalang, Sayup Di Telinga Membekas Di Rongga Dada (12)

Tak ingin ku perdulikan serpihan yang ada disekitarku, yang sesekali menyibak rasaku. Terkadang, aku mencoba untuk berlalu hanya demi menjaga sebuah hati. Tapi jujur, aku tak mampu melepasmu. Disaat kedekatan ini begitu hangat. Ada perasaan ingin berkata jujur. Ingin menunjukkan siapa sebenarnya diri ini. Bahwa sebenarnya tidak seperti yang kau kira. Tapi dimanakah keberanianku? Hilang lenyap, dan menguap entah kemana begitu melihatmu.

Aku bisa saja beralasan; menunggu sinyal yang kau berikan, bahwa kau siap menerima kenyataan ini. Tapi sampai kapan?

Dan hari demi haripun berlalu, menyisakan seonggok rahasia karena keberanianku yang sirna, dibalut oleh rasa bersalah tak berkesudahan. Hingga akhirnya sinyal itu begitu jelas terlihat di ucap dan sinar matamu. Terjadi keinginanku berkata jujur padamu. Aku tahu, ini mempertaruhkan kedekatan yang ada selama ini. Tapi semua demi kau. It's really all for you.

Sungguh tak mudah ungkapkan itu. Dan samasekali tak ada niat mempermainkan. Segenap keberanian kukumpulkan. Dan dengan sedikit gagap kuungkapkan kenyataan pahit ini, yang sekalipun dapat mengubah pandanganmu tentang diri ini, aku ikhlas...

Terdengar nada terkejut dari suara lembutmu. Membuat hati semakin bergetar. Aku terus berbicara, dan berbicara, hingga tak terdengar suaramu. Dan aku semakin takut… Aku tau kau shok, aku tau kau terkaget-kaget, dan aku tau hatimu menangis.

Berat... Sungguh berat sekali hari ini. Percakapan yang diawali canda dan berakhir dengan linangan airmatamu.

Yah.. Inilah aku sebenarnya. Mungkin kau akan berubah, tapi kuharap tidak...
Karena aku sungguh sayang kamu.

Dan bila nanti, kau bertanya tentang isi hatiku? Entahlah...
Yang kutahu, aku selalu menyanyangimu. Dan sekuntum doa itu selalu ada, untukmu.

(dari rasa yang terlalu)

Image Hosted by ImageShack.us



Read More..

Aku Selalu Terjaga Untukmu

Penggalan Gemerisik Ilalang, Sayup Di Telinga Membekas Di Rongga Dada (11)

Dapat aku mengerti bila salah satu dari dua hal yang pasti akan aku temui bila mencintai sesuatu; kebahagiaan ataukah menderita.

Dan lalu kehidupan kita terus berjalan. Bahkan berlari...
Lari dari segala macam hal, mungkin dari kehidupan itu sendiri.

Lantas kau bertanya; "Apakah ada orang yang bisa lolos dari kepedihan?"
Seperti saat kau bersiap untuk terlelap di malam hari, dan terbangun di keesokan paginya. Ia muncul dengan tepat waktu, agak sedikit terlambat saat kau sakit dan lemah.

Seringkali kau berharap untuk hari yang baik.
Jika itu hari yang baik, kau harus memberitahu dirimu; "Kau bisa menyelesaikannya".
Karena hari ini bisa jadi berbeda. Di hari ini mungkin sesuatu akan terjadi...

Lihat! Sebagian orang hidup dengan rasa sakitnya. Karena hanya itu yang mereka miliki. Dan mereka bersamanya, takut akan tergelincir.

Orang seperti aku, yang suka akan bermimpi, dengan atau cara lainnya.

Aku selalu terjaga...


(dari rasa yang terlalu)


Image Hosted by ImageShack.us



Read More..

Karena Hanya Kita Yang Tahu

Penggalan Gemerisik Ilalang, Sayup Di Telinga Membekas Di Rongga Dada (10)



Tentang apakah ini yank…
Bila kusuka dirimu,
bila kusayang dirimu.
Namun apakah mungkin
kita bersama selamanya,
sekalipun mungkin
itu yang sama kita inginkan.

Tentang apakah ini yank…
Bila kusadari beda kita,
demikian pula dirimu.
Namun sungguh
kita ingin selalu bersama,
karena mungkin
itu yang sama kita inginkan.

Biarlah sayangku sayangmu
bagai telaga kemilau,
ingin memancarkan sinar
di bening matamu.
Biarlah sayangku sayangmu
bagai telaga biru,
ingin kupeluk cintamu
di kesepian hidupku.

Tak perduli tentang apa ini yank...
karena hanya kita yang tahu.
Tak perduli tentang apa ini yank...
karena hati kita dekat selalu.
Hingga kita takkan pernah pisah,
walau mungkin raga kita takkan pernah bisa
bersama selamanya.

(dari rasa yang terlalu)


Image Hosted by ImageShack.us


Read More..

Dariku Untukmu, Untuk Selamanya

Penggalan Gemerisik Ilalang, Sayup Di Telinga Membekas Di Rongga Dada (9)

Tak seharusnya kau hanya terdiam dan hanya menunggu disaat jiwa dahaga ini begitu sabar. Mungkin yang harus kumulai sekarang adalah berharap melihat kembali fajar pagi. Saat kau bermimpi dalam tidur yang damai, aku bahkan takkan pernah bisa tertidur. Saat kau terbangun ku akan mencoba ceritakan semua yang telah kualami.

Dan malam malam begitu gelapnya dalam diri ini, hingga akhirnya dapat kumengerti: “Dengan cinta yang telah kau berikan, kau bisa menerangi langitku selamanya”. Itulah caramu memberi kebebasan, itulah caramu mengambil jiwaku. Ku hanya meminta matahari bersinar cerah agar bisa melihat senyummu lagi.

Akan kutulis dan kubuat seluruh dunia mendengar, dalam keheningan yang hanya untukmu, yang tak seorang pun bisa mendengar. Dan akan kubangun semua cinta yang terjaga selamanya.

Akan kita lakukan hal-hal yang kita inginkan, seperti yang sepasang kekasih lakukan. Berlarian di jalan setapak dan mulai menari segilanya. Karena kau hanya ingin merasakan kebahagiaan dalam cinta yang memberi. Maka kita akan memberi warna dunia kita, mewarnai pula semuanya, dahan, ranting, daun, semuanya. Warna pelangi untuk semua yang kau inginkan, warna bahagiamu.

Dan kita akan bermain di taman bunga, membuat jalan hidup di awal musim penghujan. Membuat sebuah tempat di mana cinta berpadu, terbang dengan cara seperti yang cinta ketahui. Karena kita akan terbang ke langit dan kita akan memilih dua buah bintang, dan kembali melewati celah bintang, cinta yang kita miliki, milik kita.

Kasih, kita berbagi manisnya kasih sayang yang kita tahu adalah nyata adanya; “Bahwa cinta bukanlah mimpi, tapi akhir sebuah kehidupan yang panjang”. Karena kau cintaku, kuakan memberi senyatanya dari semua yang kita butuhkan. Karena cinta yang telah kita dapatkan, untuk kita, untuk kau dan aku.

Sebab cintamu bagiku bukan awal, bukan pula akhir.
Cintamu, cintaku, cinta ini, bagiku selamanya.....
Cinta untuk selamanya.....

(dari rasa yang terlalu)


Image Hosted by ImageShack.us


Read More..

Aku selalu merindukanmu









Tubuh lelaki itu semakin kurus.
Lelaki yang kukenal karena kesabarannya.
Lelaki yang kerap membangkitkan semangatku.
Yang selalu bercerita tentang hidup dan kehidupan.
Yang selalu bersedia berkorban apa saja agar kubahagia.

Terbayang seolah baru kemarin,
tubuh kekarmu, tegap.
Berdiri tegak,
dalam balutan seragam hijau, gagah.

Malam larut...
Ada tetes air di matanya,
yang kutahu ia tengah menahan
sakit tak terperi.
Kangker stadium tinggi.

Raut wajahnya tetap tenang,
semakin tenang membisikkan;
bait bait amanah,
kutanam dalam di aliran darahku.

Sesal ku tak mampu mengantar kepergianmu.
Selamat jalan Ayahanda tercinta...
Semoga Malaikat pembawa pelita senantiasa menemani.
Do'aku senantiasa terpanjat untukmu...
Semoga Ayah mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.

(untuk Ayahanda alm.)



Image Hosted by ImageShack.us


Read More..

Bukan Elegi Kesunyian, Sekalipun Hidup Sejatinya Sebuah Kesunyian?


Dari artikel kemarin di blog ini mungkin tersirat riakan suasana hati saat menulisnya. Maaf bila diri ini ternyata memanfaatkan blog ini juga sebagai media pelampiasan atas apa yang diri ini rasakan; susah, sedih, senang, ketidak mampuan, kerinduan, unek-unek, harapan, keinginan tuk berbagi, dan banyak lagi. Mudah-mudahan tidak ada salahnya, tetap berharap mendapat semangat dari sini tuk menjadi mahluk yang tak mudah rapuh.

Karena bagaimanapun disaat diri ini membutuhkan kehadiran penyemangat, darimana pun datangnya itu, kenapa tak diterima dan dipahami?

Mendengarkan suara hati sendiri memang perlu, namun bukan berarti menulikan hati dari suara-suara kecintaan dari luar. Toh diri ini hanya manusia biasa, sangat-sangat jauh dari kesempurnaan. Tak ingin terbelenggu oleh ketidak-pekaan. Tak ingin terkungkung oleh kesendirian. Alangkah menakutkannya, dan takkan ada manusia yang sanggup tuk melalui perjalanan hidup hanya dengan individunya sendiri, tanpa memerlukan individu lain.

Keinginan menjadi pribadi yang dicintai, disenangi, dirindui, membuat bahagia ketika bertemu dan membuat senang berada di dekatnya dalam perjalanan di kehidupan ini.

Ia ada bercerita,
tentang kenanganmu yang melupakannya,
dari apa yang ia sayangi.
Ia pun ada bercahaya,
memancarkan sinar karena wajahmu,
dan ceritamu sungguh menjadi pemikatnya.
Bila pun ia mengeluh keletihan di tengah perjalanan,
maka hasrat tuk bertemu,
seakan memberinya sebuah kekuatan.
Karena cinta ini bukanlah sekedar berbasa-basi,
atau bahkan keterpaksaan,
maka sambut ini dalam
persaudaraan,
persahabatan.
Akan selalu teringat;
itu adalah sesuatu yang paling ternikmati.
Pun bila kau ingin berjalan sendiri,
dan entah merasa bosan terhadapku,
tak mengapa!
Namun kau tetap akan mendengar,
suara ini memanggilmu;
saudaraku,
sahabatku.
Hingga gaung cinta ini,
mendatangimu di manapun kau berada.
Akan kau mengerti...
keindahan dari sebuah ketulusan.

-***-



Read More..

Sekedar Meneruskan Kehidupan Untuk Musim Berikutnya

Penggalan Gemerisik Ilalang, Sayup Di Telinga Membekas Di Rongga Dada (8)

Penghujung musim ini memberi sederet makna. Ada amarah menggelegak. Kala kebimbangan akan sebuah keputusan yang teramat berat, kala kekecewaan menghampakan sebuah harapan. Sungguh, amarah telah menjelmakan karakter lain. Dan aku enggan berdiri, lebih baik duduk diam, atau bahkan tidur. Hingga musim berikutnya, tatkala amarah telah terpadamkan.

Bagaimanapun tak sepatutnya amarah terlampiaskan kepada mahluk lain, bagaimanapun lebih mulia memendamnya hingga alih-alih orang lain, tangan dan kaki pun tak tahu bila amarah sedang menggelegak di hati. Memaafkan dan menyelesaikan setiap permasalahan, dari pada menghunuskan amarah. Dari sisi manapun takkan ada pembenaran dengan timbulnya amarah, kecuali permasalahan baru. Takkan ada penyelesaian hingga amarah terpadamkan, kecuali penyesalan...

Maafkan aku...
Apa dayaku bila aku hanya pohon yang tumbuh diantara dedaunan kering berserakan. Yang sekedar meneruskan kehidupan untuk musim berikutnya. Kehidupan yang kecil, berharga tapi kecil.

(dari penggalan hasrat yang tak teruraikan)

Image Hosted by ImageShack.us


PS.
Sekalian ingin pamer award dari mbak Fanda setelah kelamaan berenang dari hulu ke hilir di Sungai Hidup (apalagi di tepi sungainya ada rumah mungil, siapa yang nggak betah?).

Read More..

Ingin Ganti Warna


Gara-gara posting artikel kemarin (Warna Kebahagiaan 'Sejati'), saya jadi teringat tentang warna. Dan bicara soal warna tentu kita membayangkan apa? Ya..., apalagi jika bukan soal cat, ya kan? Dan bicara soal cat, hm... jadi ingin ganti warna, bukan warna kulit, tapi warna ruang tidur. Berharap suasana baru dan yang terpenting tentunya agar tidak mimpi buruk melulu, ...hahaha.

Hanya saja kemudian timbul masalah lain seperti lazimnya setiap kita ingin mengecat. Bukan soal budget, karena yang akan dibedaki kan cuma ruang tidur saja (exterior, ruang tamu, ruang makan, dan dapur masih kinclong), jadi tidak seberapa menguras pendapatan bulan ini. Lantas masalahnya apa?

Pilihan warna. Ya..., itulah masalahnya. Sederhana memang, namun bingung juga menentukan pilihan bila sudah dihadapkan pada banyak pilihan (kayak milih Partai Pemilu saja... hahaha).

Dari itu untuk update artikel blog kali ini saya perkenalkan kandidat kuat yang bakal saya pilih,

Merah
Dianggap mampu membangkitkan hasrat dan kegairahan.

Oranye
Dianggap mampu menimbulkan aura ceria, jauh dari kesan feminin.

Kuning
Dianggap mampu meningkatkan daya kreatifitas dan imajinasi.

Hijau
Dianggap mampu menimbulkan aura menenangkan, sejuk dan nyaman.

Biru
Dianggap mampu menciptakan kenikmatan tidur, mampu menghilangkan kepenatan, dan mampu mengantar ke alam mimpi.

Ungu
Dianggap mampu membangkitkan asosiasi warna yang mewah, agung, dan karismatik.

Karena ruang tidur juga merefleksikan kepribadian seseorang, namun tidak menutup kemungkinan suasana hati yang dominan pada saat memilih pun turut andil dalam menentukan pilihan. By the way, apa sih warna favorit Anda?


Image Hosted by ImageShack.us

Dragonadopters


Read More..

Dari Sisi Mana Diri Ini Belajar Melihat


Suatu hari di penghujung malam, kunang-kunang terkesima oleh sebuah bintang yang pendaran cahayanya melebihi terangnya cahaya bintang-bintang yang lain. Kunang-kunang lalu menghampiri bintang itu dan terbang mengitarinya. Hingga tanpa disadari ia telah jatuh cinta pada bintang itu dan berusaha memilikinya.

Namun saat kunang-kunang berhasil memeluk bintang itu, ia tersadarkan oleh sebuah kenyataan bahwa semua itu tak lebih hanyalah sebuah ilusi.

Kebahagiaan dan penderitaan memang adalah hal yang biasa dalam kehidupan. Dari sebuah peristiwa tak pelak kita selalu dihadapkan pada dua buah pilihan. Pilihan untuk melihatnya dari sisi kebahagiaan dan pilihan untuk melihatnya dari sisi penderitaan.

Seperti halnya kunang-kunang itu, ia bisa saja melihatnya dari sisi penderitaan bila ia merasa kehilangan dan tidak dapat memiliki bintang itu selamanya. Hidup menderita dengan penuh penyesalan tiada akhir, karena telah mendapati kenyataan bahwa memiliki bintang itu tak lebih hanyalah ilusi semata.

Namun ia pun bisa pula melihatnya dari sisi kebahagiaan bila ia merasa cukup bahagia walau bintang itu hanyalah ilusi. Karena bagaimanapun, semakin ia mengingat bintang itu semakin ia terpacu untuk dapat memendarkan cahayanya sendiri seterang cahaya bintang itu.

Maka tersadarlah diri ini bahwa dalam setiap peristiwa yang menimpa, apapun itu selalu diri ini belajar untuk melihatnya dari sisi kebahagiaan dari pada melihatnya dari sisi penderitaan. Bukankah dalam setiap baris doa kita selalu memohon diberi kebahagiaan dan dijauhkan dari penderitaan?

Ah, bintang itu...
Diri ini hanya mengetahui bahwa kunang-kunang itu menyebutnya The Morning Star.

Image Hosted by ImageShack.us


Read More..

Mengantar Diri Ini Kembali Ke Rutinitas


Senja makin temaram, saat diri ini meneruskan kembali kesibukan rutin seperti biasa. Yang tidak biasa adalah rasa bosan, suntuk tiada kepalang yang tiba-tiba menyeruak memenuhi rongga dada, menyesakkan.

Hari-hari yang diri ini lalui begitu membosankannya. Hari-hari yang hanya berkutat dengan kerja dan kerja tiada habisnya. Untuk apa semua ini? Kadang terbesit keinginan untuk keluar dari semua rutinitas ini, terkadang ada semacam kerinduan untuk kembali ke masa kanak-kanak yang tanpa beban, hanya bermain dan bermain.

Dulu saat diri ini masih kanak-kanak, diri ini ingin secepatnya dewasa, bekerja, dan memiliki penghasilan sendiri, lalu menggunakannya sesuka hati. Tapi ke mana semua itu kini? Raib tenggelam bersama kesibukan yang tiada habisnya. Menguap bersama kenyataan yang jauh dari harapan.

Maka adalah benar bila orang mengatakan, saat kecil ingin secepatnya dewasa, namun manakala telah dewasa ingin kembali lagi ke masa kanak-kanak. Dan diri ini sadar, itulah kehidupan. Dan kehidupan selalu dahaga akan sesuatu yang tidak didapati.

Bagaimanapun, seyogyanyalah diri ini bersukur bahwa sanya dulu diri ini telah merasakan indahnya masa kanak-kanak. Saatnyalah kini, saat diri ini sudah bukan kanak-kanak lagi untuk menapaki tingkatan kehidupan dewasa. Kehidupan yang jauh dari sekedar pernak-pernik kesenangan, kehidupan yang bukan sekedar bermain-main. Kehidupan yang menuntut tanggung jawab di setiap langkah yang diambil. Mempertanggung jawabkannya hari ini, esok, lusa, dan setelah mati.

Mati? Ya..., diri ini mengerti, sangat mengerti bahwa tingkatan berikutnya bila Tuhan menghendaki adalah tua dan lalu..., mati. Diri ini ingin selalu ingat itu, diri ini bakal menapaki tingkatan selanjutnya. Ditunggu tidak ditunggu ia bakal datang menghampiri.

Lantas apa yang telah diri ini siapkan bila tua? Apa yang telah diri ini siapkan bila mati? Berpikir ke sana adalah sebuah keharusan, tetapi kehidupan diri ini masih dan sedang berlangsung. Dan inilah saatnya untuk mempersiapkan segalanya.

Kembali rasa sukur membasuh diri ini. Ketetapan hati, bahwa segala yang diri ini lakukan, selama itu baik, adalah bentuk dari sebuah persiapan bagi kehidupan diri ini di tingkat berikutnya.

Senja beranjak malam, malam beranjak pagi, dan pagi mengantarkan kembali rutinitas bagi sebuah awal dari kehidupan di hari ini.

Image Hosted by ImageShack.us

Read More..

Setiap Hari Selalu Membahagiakan, Tapi Gak Ada Hari Yang Lebih Membahagiakan Daripada Hari Ini


Penggalan Gemerisik Ilalang, Sayup Di Telinga Membekas Di Rongga Dada (7)

Sepertinya sekencang apapun aku berlari dari kesulitan, ia akan tetap datang saat tiba waktunya ia menyentuh kehidupanku. Aku selalu berdoa agar dijauhkan dari cobaan kehidupan yang sulit dan selalu didekatkan dengan kebahagiaan. Namun jangankan diriku, siapa pun jika telah tiba masanya kesulitan itu datang, ia akan datang tanpa melihat siapa yang disentuhnya, tua atau muda, kaya atau miskin, apa jabatannya, ia datang bak suatu keharusan yang tak terelakkan.

Aku selalu belajar dan belajar untuk sedapat mungkin menerima dengan ikhlas saat kesulitan dan ketidak bahagiaan itu datang menghampiri. Selalu belajar dan belajar untuk tetap ikhlas membukakan pintu saat ia mengetuk pintu kehidupanku, berusaha dan selalu berusaha untuk tersenyum menyambut kedatangannya. Aku berharap mudah-mudahan dengan begitu kesulitan yang datang tidak akan membuatku patah semangat, tidak membuatku babak-belur jatuh terbanting-banting, berdarah-darah bak jatuh dari ketinggian. Bukankah dengan tidak merasa putus asa saja sudah merupakan suatu keberhasilan yang patut kusukuri?

Disaat-saat seperti itulah peran seorang sahabat sungguh teramat penting bagiku. Saat kesulitan itu diungkapkan pada sahabat, maka ia selalu mau mendengar penuh empati, memberi masukan dan saran berdasarkan pengalamannya, dan bilapun tidak dapat memberi saran, ia dengan tangan-tangan persahabatan merangkul membesarkan hatiku agar tetap tabah dengan cobaan dan kesulitan yang datang. Sungguh mengagumkan arti seorang sahabat. Maka betapa sebuah kehilangan yang melebihi kehilangan batu permata berharga rasanya, bila kehilangan seorang sahabat, sedih, sesal tiada tara.

Namun apapun itu seorang sahabat sejati tak akan pernah menyakiti apalagi meninggalkan kita, aku selalu yakin akan hal itu. Kemarin boleh merupakan gesekan kecil, namun hari ini adalah rangkulan saling memaafkan. Kemarin mungkin singgungan-singgungan kecil, namun hari ini adalah rangkulan saling memaklumi. Karena setiap hari selalu membahagiakan, namun tak ada hari yang lebih bahagia dari hari ini, cause we know who we are..

(dari hari yang paling membahagiakan)


Image Hosted by ImageShack.us

Read More..

Tetap Gue Ingat, Di Keindahan Sunset Kala Senja


Penggalan Gemerisik Ilalang, Sayup Di Telinga Membekas Di Rongga Dada (6)

Apa sih yang gue mau? Saat gue gundah dan gak memperhatikan bahwa ia sedang gak ingin diganggu, gue malah seolah gak mengerti. Menghantarkan kebosanan dalam kalimat-kalimat gak bermakna.

Bosan.
Ya... itulah alasannya.

Bosan karena gue seolah cuma mengulang pembicaraan yang itu-itu saja.
Ah..., mungkin gue gak sadar, tapi sesungguhnya gue sendiri bingung, setiap gue bicarakan sesuatu padanya kini, apapun itu selalu berakhir salah dan salah, selalu salah.

Dulu, saat ia gak seperti ini. Ia begitu antusias menanggapi apapun yang gue ceritakan. Tapi kenapa sekarang ia sedemikian diamnya? Menanggapi seperlunya, seolah apa yang gue ucapkan hanyalah sampah gak berguna yang cukup ditanggapi seperlunya saja?

Sebenarnya gue cukup mengerti bila ia katakan "cukup..!", mengerti bila ia katakan "sudah hentikan bualanmu..!" atau "bicarakan saja masalah A atau B ..!", tanpa diikuti perlakuan merendahkan yang gak santun. Gue tahu bahwa sikapnya selalu dewasa, sangat dewasa malah. Tapi entahlah, hari itu betapa tidak dewasanya ia dengan sikapnya.

Gue sangat menghormatinya, menghargai privacy-nya, selalu berusaha menjaga sikap, selalu meminta maaf secepatnya setelah sadar bahwa gue salah. Ah... rupanya hari itu adalah ambang batasnya, ia telah menyentakkan benang merah persahabatan yang kian hari kian terasa hambar saja. Robek sudah lembaran persahabatan yang selama ini sebisanya gue jaga.

Kini tinggallah kenangan yang sama sekali gak indah buat dikenang. Ingin rasanya gue sesali karena pernah mengenalnya sebagai sosok sahabat yang begitu care. Namun, betapa gue gak akan pernah mampu karena gue sangat benci bila sebuah persahabatan berubah menjadi permusuhan.

Biarlah tetap gue ingat ia di keindahan sunset kala senja. Tetap gue kenang sebagaimana adanya ia dulu, cause I just want you to know who I am...

(dari epilog kisah persahabatan usang)


Image Hosted by ImageShack.us

Iris
Go Goo Dolls

And I'd give up forever to touch you
'Cause I know that you feel me somehow
You're the closest to heaven that I'll ever be
And I don't want to go home right now

And all I can taste is this moment
And all I can breathe is your life
'Cause sooner or later it's over
I just don't want to miss you tonight

And I don't want the world to see me
'Cause I don't think that they'd understand
When everything's made to be broken
I just want you to know who I am

And you can't fight the tears that ain't coming
Or the moment of truth in your lies
When everything feels like the movies
Yeah you bleed just to know you're alive

And I don't want the world to see me
'Cause I don't think that they'd understand
When everything's made to be broken
I just want you to know who I am

And I don't want the world to see me
'Cause I don't think that they'd understand
When everything's made to be broken
I just want you to know who I am

And I don't want the world to see me
'Cause I don't think that they'd understand
When everything's made to be broken
I just want you to know who I am

I just want you to know who I am
I just want you to know who I am
I just want you to know who I am


Read More..

Hiburan Satu-satunya Saat Gue Tua Nanti

Dulu, setiap gue ingin ngerubah sesuatu yang kurang pas, gue ingin ngerubah segalanya secara total. Hingga kemudian gue berpikir, alangkah lebih efektifnya memperbaiki sesuatu yang kurang pas itu setahap demi setahap daripada harus ngerubahnya secara total. Mengevaluasi point-point mana saja yang membuat gue ngerasa gak puas, mencari sisi mana saja yang membuat gue ngerasa gak senang, baru kemudian mulai melakukan tindakan buat ngerubahnya.

Bukankah melakukan perubahan selangkah demi selangkah akan lebih membuat gue berpeluang besar buat mendapatkan hasil maksimal?

Hari pun datang silih berganti, dan kebiasaan itu kemudian menjadi kian seirama dengan gue, karena gue hanya ngejalani sebuah kehidupan kecil, melangkah dengan langkah yang gak terlalu tergesa-gesa, setiap langkah seakan menyuarakan satu ketukan nada merdu. Setiap langkah yang diayunkan terasa lebih bermakna tanpa tergesa-gesa, selama gue gak berhenti, gue tetap akan sampai ke tujuan. Berharap dapat melihat banyak keindahan pemandangan disepanjang perjalanan.

Bukankah dengan begitu akan banyak yang dapat gue kenang saat gue tua nanti?

Bukankah hanya kenangan indah di sepanjang perjalanan hidup yang telah gue lalui, yang menjadi hiburan satu-satunya saat gue tua nanti?

Gemericik suara hujan akan lebih terdengar merdu dari pada gemuruh suara air bah, sedemikian merdunya hingga menciptakan sebuah kerinduan tersendiri saat lama gak mendengarnya. Seperti rindunya gue pada seseorang di hari-harinya. (Bye sis, I hope all your dreams come true... )

Image Hosted by ImageShack.us

Read More..

Jauhkan Gue Darinya

Dendam hingga berlarut-larut, Gampang marah, Merendahkan orang lain, Enggan tersenyum, Gak sabaran, Gampang menyerah, Gak mau belajar dari kegagalan, Selalu melihat apa yang belum dimiliki, bukan apa yang sudah dimiliki, Persahabatan berubah jadi permusuhan, Perpisahan, kecuali kematian.

Dendam hingga berlarut-larut,
Karena mendendam itu berarti gak bisa memaafkan. Tuhan yang menciptakan kita saja selalu memaafkan hambanya yang bersalah kok, asalkan mau bertobat.

Gampang marah,
Dikit-dikit marah, dikit-dikit tersinggung, dijamin orang gak bakal betah dekat dengan kita.

Merendahkan orang lain,
Manusia kan diciptakan sama, hanya faktor keberuntungannya saja yang berbeda. Lantas apa yang membuat kita lebih berharga dari manusia lain? Hartakah? Kedudukankah? Kepandaiankah? Ketampanan dan kecantikankah? Semua itu gak lebih hanya ujian dari yang Maha Kuasa. Pada akhirnya semua itu akan sirna saat kita tua dan mati.

Enggan tersenyum,
Menandakan ketidak ramahan, susah didekati, keangkuhan, kesombongan dan seabrek kesan jelek yang melekat. Satu hal yang penting, memiliki sifat tersebut susah untuk berbagi kebahagiaan dengan orang lain.

Gak sabaran,
Hanya akan membuahkan kesalahan dalam bertindak, ketidak waspadaan, ketidak telitian dan kesemrawutan. Sungguh suatu sifat yang kontra produktif.

Gampang menyerah,
Selalu mengandalkan orang lain tanpa berusaha terlebih dulu, sifat seperti itu hanya akan menyusahkan orang lain, jauh dari kemandirian.

Gak mau belajar dari kegagalan,
Selalu, kegagalan itu adalah pelajaran berharga, sehingga kita gak akan pernah terjatuh lagi ke lobang yang sama.

Selalu melihat apa yang belum dimiliki, bukan apa yang sudah dimiliki,
Gak pernah bersukur dan menikmati apa yang telah dimiliki, malah terkesan rakus sehingga tak akan pernah tenang dan bahagia dalam menjalani hidup.

Persahabatan berubah jadi permusuhan,
Persahabatan yang awalnya begitu care, manis dan menyenangkan berubah jadi keterpaksaan berbalut kebencian, betapa gak menyenangkannya. Oh My God.

Perpisahan, kecuali kematian.
Sunguh menyakitkan kehilangan sesuatu yang telah kita cintai. Maka janganlah terlalu mencintai sesuatu bila tak ingin tersakiti manakala kita kehilangannya.

Sebenarnya masih banyak hal dan kebiasaan buruk lain yang gue selalu berusaha buat ngejauhinya, namun diatas tadi adalah salah satu PR dari Award yang gue dapat dari mbak Fanda (thanks, your blog is also full of inspiration).

Image Hosted by ImageShack.us
Read More..

Karena Memang Begitulah Gue Adanya

Apa yang pertama kali gue lakuin saat online di internet?
Sudah menjadi kebiasaan gue, saat pertama kali online di Internet adalah ngebuka email dan ngirim email. Atau ngehubungi seseorang yang baru dikenal, begitu pula dengan Anda bukan?

Mengapa itu yang gue lakuin?
Ah…, mungkin gue mulai ngerti bila ternyata memiliki ikatan dekat dengan orang lain adalah salah satu kunci penting untuk bahagia. Ketika gue bertindak ramah, bukan hanya orang lain yang bersikap lebih ramah kepada gue, tapi juga menguatkan rasa keramahan gue buat orang lain.

Namun gue ngerasa masih perlu ngebiasain buat nyempetin waktu 1 atau 2 menit buat nerusin informasi yang berguna, atau memberikan pujian yang membesarkan hati. Sungguh, bila gue telah terbiasa ngelakuinnya maka alangkah senang rasanya. Karena dengan menyumbangkan informasi yang berguna bagi orang lain atau memberikan pujian yang membesarkan hati, maka hal itu tentu akan menyenangkan orang lain. Bukankah berbuat baik akan menimbulkan rasa senang?

Maka tak ada salahnya pula bila gue belajar buat sebisanya nyembunyiin rasa ketidak bahagiaan gue manakala gue sedang galau abis, berpura-pura bahagia sampai gue benar-benar ngerasa bahagia. Karena saat gue tersenyum, maka senyuman itu tentu akan membangkitkan pula semangat orang lain.

Sungguh gue berharap bila gue tersenyum mudah-mudah dengan senyuman itu orang lain akan nganggap gue lebih ramah dan lebih mudah didekati, karena memang begitulah gue adanya.

Image Hosted by ImageShack.us
Read More..

Gue Mengetahuinya Bernama Sayap Cinta

Anda tentu tahu begitu pula gue, betapa sudah terbiasanya manusia digelayuti bermacam-macam beban ke sana ke mari. Dari mencari nafkah hingga mempersiapkan hari tua. Sungguh betapa beratnya beban hidup ini bagi manusia. Mulai Abang Beca, sampai Pejabat dan Pengusaha. Mulai dari yang miskin, yang pas-pasan, hingga yang kaya, sama-sama menggendong beban, sekalipun beban mereka berbeda namun sesungguhnya sama beratnya. Layaknya matahari, bulan, awan dan bintang yang memiliki fungsi dan tempat masing-masing.

Inikah sesungguhnya kehidupan itu?
Kehidupan yang penuh dengan beban?
Kehidupan yang tak lebih hanya "penderitaan"?

Ah..., beban hidup itu, semakin gue bertambah usia maka terasa benar semakin bertambah berat dan menjadi bertambah berat terlebih lagi tatkala beban itu telah terkontaminasi oleh kebencian. Kemanapun gue pergi, beban itu selalu mengikuti, hingga sampai suatu hari nanti dimana tubuh gue gak akan kuat lagi menyangga beban itu, maka terlemparlah gue ke tanah.

Di sepanjang perjalanan hidup gue, dari satu masalah hingga ke masalah lain. Menjadikan gue benar-benar yakin kalo gak akan pernah ada seorang pun manusia yang sepenuhnya terbebas dari masalah. Sampai-sampai gue melihat banyak diantaranya yang miskin senyuman, mudah hilang kesabaran, mudah tersinggung, mudah marah, dan yang senantiasa minta diperhatikan.
Apakah semuanya itu bermula hanya dari sebuah beban hidup yang terkontaminasi oleh "kebencian"?

Lantas apakah yang dapat meringankan beban hidup gue sehingga bak kapas ditiup angin, melayang-layang dengan ringan ke sana ke mari?
Sungguh, alangkah indahnya hidup ini bila beban itu terasa ringan dan semakin ringan saja. Adakah yang dapat menerbangkan gue melayang-layang walaupun digelayuti oleh beban hidup?
Ataukah gue harus memiliki sayap untuk dapat ringan melayang?
Seperti apakah sayap itu?
Di manakah sayap itu?

Ah..., sayap itu.
Gue mengetahuinya bernama sayap cinta...

Image Hosted by ImageShack.us

Read More..

Gue Ingin Merenung Sekarang, Saat Ini Juga

Entahlah, beberapa hari ini perasaan rindu pada sesuatu begitu mendera. Sungguh, seakan ada yang hilang, sesuatu yang tak disadari begitu berartinya hingga tiba-tiba saat ia menguap dan raib (yang entah karena apa), rasa kehilangan, bersalah, sedih begitu berkuasanya sekarang.
Ah… ternyata gue ulang dan selalu terulang lagi, kesalahan demi kesalahan ucap, langkah dan sikap gue yang mungkin takkan bisa diterima dan ditolerir? Maafin gue...
Gue gak lebih hanyalah manusia biasa, salahkah jika ingin menumpahkan apa yang dirasakan? Salahkah kalo gue ingin sekedar meyakinkan diri gue?
Bahwa gue selalu ingin menjaga hati gue dari begitu banyak kekhilafan yang merasuki hati?
Batin gue selalu menggeliat ingin lepas bebas, tapi semampunya gue masih berpikir positif, setidaknya sampai sejauh ini…
Sungguh, gue masih tetap bertahan untuk selalu berpikir dan merenung.

Gue yakin, jika kehidupan memang tidaklah lama. Pada kenyataannya menunjukkan bahwa rata-rata kehidupan manusia yang baik dan sehat hanya hingga mencapai umur 70 tahunan. Hari ini saja ada yang baru memulai langkah kehidupan mereka di muka bumi ini, ada yang sudah separuh jalan dan adapula yang sudah menginjak usia senja. Sudah seyogyanyalah perubahan manusia dari bayi hingga menjadi tua ini adalah suatu pelajaran bagi gue yang selalu berusaha tetap menggunakan akal untuk berpikir dan merenung.

Gue yakin, merenung adalah salah satu sikap berpikir dalam memaknai kehidupan yang telah dilalui sejauh ini dan yang terlebih penting adalah berpikir untuk memikirkan tujuan hidup ke depan. Demi pencapaian terhadap sebuah pertimbangan yang matang, sungguh gue sangat perlu merenung sekarang. Saat ini juga…

Merenungkan bagaimana terjadinya gue, karena asal-usul gue adalah satu yang hina, yang dipandang jijik. Gue keluar juga dari saluran najis. Gue keluar dengan badan yang diselaputi oleh benda yang kotor. Diri ini keluar di dunia ini dalam keadaan lemah dan tidak berdaya.

Gue perlu merenungkan,
Apa tujuan gue diciptakan?
Dimana letak gue dalam sejarah panjang perjalanan peradaban manusia?
Dimana posisi gue dalam alam semesta yang maha luas ini?
Apa tugas kemanusiaan yang harus gue lakukan?
Apa kontribusi gue sebagai khalifah bumi?
Apa makna hidup ini sesungguhnya?
Sukses, berhasil atau bahagia?

Ah..., memang kadang gue perlu berjalan sendiri atau bahkan berhenti sejenak untuk befikir dan merenung setelah proses panjang yang melelahkan sebagai persiapan bagi proses panjang berikutnya.

Gue ingin merenung sekarang, saat ini juga...

Image Hosted by ImageShack.us
Read More..

Cara Kita Memandang Malam


Penggalan Gemerisik Ilalang, Sayup Di Telinga Membekas Di Rongga Dada (5)

Sungguh takkan hilang dalam semalam...
Selalu teringat cara kita memandang malam, cara kita meyanjung malam, cara kita mengisi malam. Dalam geriap kisah malam terantuk-antuk bintang, tekankan kita dalam bayang di balik rembulan, pada kerap malam sebelum semalam. Semudah itukah menghapus semuanya?

Sungguh gak akan gue percaya lagi malam-malam yang kini...
Kisahnya terbungkus rapih dalam memory tetap. Menjadikan siang sebagai luapan amarah dalam emosi yang tak terduga. Dan malam yang kini dipenuhi kejenuhan, keengganan, keangkuhan, antipati tak bersahabat, renggangkan kita dalam bayang dibalik awan kelam, pada malam kini setelah semalam. Semudah itukah menyirnakan semuanya?

Malam kini kian meninggi, dan langkah kita kian hilang di pekat malam, meninggalkan jejak yang takkan pernah terhapus, cara kita memandang malam...

(dari malam-malam yang tak terlupakan)
Image Hosted by ImageShack.us
Read More..

Betapapun Gue Enggan Karena Gue Terlalu Cinta

Penggalan Gemerisik Ilalang, Sayup Di Telinga Membekas Di Rongga Dada (4)

Telah gue pendam kesedihan ini jika rumput pun enggan tumbuh di sini. Sehingga jikalau air mata ternyata lebih menghilangkan dahaga, telah tiba saatnya gue harus mereguknya. Biarlah hujan disana telah melanda, biarlah gerimis disini tak kunjung tiba, sebab mungkin gue harus putuskan rasa. Betapapun gue enggan karena terlalu terbiasa...

Juga telah gue simpan cita ini jika asa pun tak bersahabat. Sehingga jikalau mimpi ternyata lebih sekedar bunga tidur, telah tiba saatnya gue harus pejamkan mata. Biarlah gue cintai heningnya pagi, biarlah gue cintai dinginnya malam, sebab mungkin gue harus putuskan pengharapan. Betapapun gue enggan karena terlalu berharap...

Maka telah pula gue cukupkan cinta ini jika kenyataan pun begitu menyakitkan. Sehingga jikalau menyendiri ternyata lebih menentramkan hati, telah tiba saatnya gue harus sendiri. Biarlah titian lama putus sebelum gue sampai, biarlah tak ada titian baru karenanya, sebab mungkin gue harus putuskan buat berhenti. Betapapun gue enggan karena terlalu gue cinta...

(dari rasa yang terlalu)
Image Hosted by ImageShack.us
Read More..