Menghapus Profil Paradoksal di Negeri Paradoks

Situasi yang serba paradoks... itulah yang kita saksikan dan hadapi sehari-hari di era kita. Terkadang paradoks itu cukup menggelikan. Tetapi mungkin itulah kenyataan yang mesti kita hadapi dan langkahi untuk melangkah maju ke masa depan yang lebih baik.


Jika melihat banyaknya orang dari 'negeri paradoks' yang hobi melancong ke luar negeri, tentu hal ini mengindikasikan bahwa kelas menengah 'negeri paradoks' memang benar-benar sudah tumbuh. Pendapatan per kapita yang telah melampaui US$4.000 per tahun sebagai salah satu tolok ukurnya, meski disertai dengan rasio ketimpangan yang membesar.

Mereka melancong ke mana saja, bahkan terkesan royal. Dan sangat ngeh dengan clue "Kalo pergi ke luar negeri pastikan bawa dua kopor, yang satu biarkan kosong agar bisa diisi belanjaan saat pulang."

Gaya mereka berbelanja yang doyan mulai dari barang branded yang harganya puluhan bahkan ratusan juta sampai barang biasa. Padahal, harga barang-barang yang dibeli di luar negeri umumnya relatif lebih mahal, bahkan jauh lebih mahal, ketimbang harga barang yang umumnya juga tersedia di 'negeri paradoks'. Konyolnya, beberapa barang yang dijual di luar negeri sejatinya adalah buatan 'negeri paradoks', dan terang-terang terpampang label "made in negeri paradoks".

Dan begitu kembali ke 'negeri paradoks' lagi, mulailah muncul bayang-bayang ketidakmakmuran berupa infrastruktur yang jauh tertinggal, bandara yang temaram, kadang harus antre mendarat dan mati listrik, jalanan yang sempit dan teramat macet, stasiun kereta yang ketinggalan jaman, serta banyak lagi.

Maka wajarlah bila kerap kita menggerutu dalam hati bila menyaksikan para big spender dari 'negeri paradoks': kok pemerintah 'negeri paradoks' gak bisa menghapuskan subsidi bahan bakar minyak buat mereka? Karena mereka (para pembelanja royal di luar negeri) itu masih menghisap subsidi bahan bakar dari pemerintah, melalui berbagai moda transportasi yang mereka gunakan, baik kendaraan pribadi, taksi dan angkutan lainnya.

Diakui atau tidak, sejumlah perusahaan operator taksi di Jakarta saja, yang jumlah armadanya mencapai puluhan bahkan ratusan ribu mobil, masih menerima subsidi. Armada taksi mereka masih memakai bensin yang disubsidi pemerintah. Malah banyak taksi mobil sedan premium yang seharusnya menggunakan bahan bakar beroktan tertinggi yang tidak bersubsidi, sudah dimodifikasi sedemikian rupa agar cocok meminum bensin bersubsidi.

Lihatlah mobil-mobil operasional yang banyak dipakai perusahaan-perusahaan dan konglomerasi, serta bank-bank di Jakarta, yang jumlahnya juga tak kalah banyak. Bahkan mendominasi gedung parkir, di mana perusahaan itu berkantor. Ya, kebanyakan mobil-mobil mereka juga peminum bahan bakar bersubsidi, padahal laba bersih perusahaan-perusahaan itu mencapai triliunan rupiah setiap tahun.

Itu contoh di skala korporasi. Belum lagi di skala individu yang jumlahnya jauh lebih banyak lagi. Tengok saja penjualan mobil baru, yang melampaui 1 juta unit setiap tahun, dan mereka kebanyakan peminum bahan bakar bersubsidi.

Ok, barangkali kita sudah gak heran dengan cerita itu, kan orang kita dikenal paling banyak akal dan paling pintar ngoprek, dan malah gak jarang pakai akal bulus.

Ya inilah 'negeri paradoks', dimana sebenarnya banyak uang, negara juga punya banyak uang, tetapi dikorupsi dan dihambur-hamburkan untuk subsidi bahan bakar karena gaya hidup yang telah terbiasa boros: Tidak hanya doyan belanja, tetapi juga boros energi. Apalagi bahan bakar bersubsidi yang murah telah melestarikan gaya hidup boros energi.

Padahal jika saja mau sedikit lebih berhemat, subsidi yang dihambur-hamburkan setiap tahun bisa banget tuh digunakan untuk membiayai infrastruktur. Kalau bandara 'negeri paradoks' bagus, jalan raya lebar dan mulus, jembatan kokoh dan jalur kereta terhubung ke pelosok negeri, tentu kesan negeri yang kurang makmur akan terpatahkan, sekaligus menghapus profil paradoksal tadi. Apalagi orang-orang 'negeri paradoks' hobi pula melancong ke luar negeri.

Atau jangan-jangan..., mereka melancong ke luar negeri karena banyak tujuan pelancongan di dalam negeri tidak dirawat dan miskin akses yang memadai?

Read More..

Salah Keras atau Benar Pelan?

Salah keras masih lebih baik daripada benar tapi pelan atau bahkan nyaris tak terdengar. Karena setidaknya kesalahan bisa segera dikoreksi, tapi benar pelan? Karena tidak terangkat ke permukaan maka kecil kemungkinan sebuah kebenaran berujung dengan koreksi atas suatu kesalahan.

Ditengah persaingan hidup yang kian hari kian berat, maka kerap terjadi penyelewengan demi tujuan memenangkan persaingan. Dan akibat penyelewengan bukan tidak mungkin akan menghancurkan nilai-nilai moral dan budaya di tengah masyarakat bahkan kehidupan berbangsa dan bertanah air.

Akan halnya keterpurukan bangsa ini, dimana korupsi, suap, penyalah gunaan wewenang, dan seterusnya begitu mewabah, apakah ini mengindikasikan “Suara kebenaran yang nyaris tak terdengar?”. Kemungkinan itu pasti ada.

Kesalahan yang diucapkan dengan keras (transparan) dipastikan akan mengundang kontroversi dan kemungkinan besar berujung pada koreksi. Dan memang resikonya adalah malu, tapi janganlah alergi dengan malu, karena budaya malu masih lebih baik ketimbang tidak punya malu alias bermuka tebal.

Sekarang tinggal bagaimana kita mengapresiasi “Budaya malu”, karena malu memang masih lebih baik daripada tidak merasa malu terhadap perilaku negatif.

"Teriaklah yang lantang untuk suatu kebenaran,
bukan untuk popularitas"

Read More..

Enggan Menjadi Tua Bukan Berarti Melawan Gilasan Waktu

Ulang Tahun... Apa artinya bagi seseorang?
Tentunya adalah saat-saat membahagiakan tatkala kolega, teman, sahabat, kerabat, saudara, orang tercinta... mengucapkan "Selamat Ulang Tahun", maka berlonjaklah hati dalam kegembiraan. Berlanjut datangnya kiriman kado, ucapan, dan berjuta kebahagiaan dari berbagai penjuru. Dan lalu apa yang akan dilakukan? Membuka kado, membalas ucapan-ucapan, atau makan-makan sekadar berbagi kebahagiaan di usia yang baru?
Bila ditanya apakah gue bahagia dengan usia yang bertambah? Jujur, gue bilang "gak!". Gue ngerasa semakin tua dan menjadi renta. Sungguh ingin rasanya kembali seperti masa kanak-kanak, tapi pastinya gak akan mungkin. (nyadar diri..hehe)

Tentunya kita tau kan? Wahana yang paling nikmat untuk bermain dan menikmati hidup adalah ketika kita masih muda dan kanak-kanak. Maka berbahagialah mereka yang masih muda, nikmatilah masa kanak-kanak kalian sebelum tua.

Kenapa gue bilang sebelum tua dan bukannya sebelum dewasa? Karena gak sedikit orang yang sudah tua tapi berpikir gak dewasa (apalagi yang style-nya saingan sama anak belasan tahun, ya udah.. jadi kayak jaman Jurasic dah..hehe ).

Yup, "tua itu pasti, dewasa itu pilihan". Dan manakala seseorang telah memasuki babak pendewasaan, maka semakin lenyaplah masa-masa bermain. Mereka harus bisa mendewasakan dirinya bagaimanapun keadaannya.

Maka bila kita bertanya, patutkah berbahagia kala ulang tahun? Ketika usia bertambah dan menjadi tua, raut wajah menjadi keriput, rambut yang mulai beruban, dan kita kehilangan jiwa kemenangan yang dulu. Ketika pijakan usia di dunia tersisa semakin dangkal, menyusut oleh gilasan waktu secara perlahan namun pasti. Hingga pada akhirnya kita akan tertuju pada satu garis finish yang semua orang pasti sama-sama akan menjalaninya. Pembedanya hanyalah waktu, tempat, dan caranya saja.

Ahk, sahabatku, bila kau berulang tahun di hari ini dan membaca coretan gue ini, janganlah kau merasa hari ini kau tak patut bersuka cita karena umurmu bertambah atau terperangah di depan cermin sambil memandangi wajahmu sudah mulai keriput atau belum, berlama-lama menyisir rambutmu helai demi helai kalau-kalau uban telah tumbuh. Hahaha...
Lebih baik rekoleksi dan introspeksi diri, lalu persiapkan diri untuk tingkat kedewasaan yang lebih matang di umurmu yang sekarang dan selanjutnya.

Mungkin inilah ungkapan perasaan gue di hari ulang tahun, ketika umur gue di dunia berkurang lagi setahun. Dan gue selalu enggan menjadi tua, bukan berarti gue melawan gilasan waktu. Malah sebaliknya, buat rekoleksi dan lebih mematangkan jiwa dengan mengkaji pengalaman hidup yang terkumpul. Selalu dan selamanya...

Read More..

Kesederhanaan Dalam Komunikasi Efektif

Sebagian besar kegiatan kita sehari-hari adalah komunikasi, mulai antar teman atau pribadi, kelompok, organisasi atau massa. Jika kita teliti lebih dalam, banyak kegagalan dari komunikasi yang kita lakukan. Bisa jadi bentuknya karena tujuan yang kita inginkan belum tercapai. Bukan tujuan komunikasi secara egois tentunya, tetapi tujuan komunikasi yang lebih kepada tidak adanya saling kesepahaman, belum bertambahnya informasi, serta ada usaha perubahan tingkah laku pada orang yg terlibat dalam komunikasi. Yang terkadang tidak hanya diartikan persetujuan semata.

Pada prinsipnya kegiatan komunikasi adalah aktivitas pertukaran ide atau gagasan. Secara sederhana, kegiatan komunikasi dipahami sebagai kegiatan penyampaian dan penerimaan pesan atau ide dari satu pihak ke pihak lain, dengan tujuan untuk mencapai kesamaan pandangan atas ide yang dipertukarkan tersebut.

Dan komunikasi seharusnya mampu menghasilkan perubahan sikap (attitude change) pada orang yg terlibat dalam komunikasi. Tujuannya adalah memberi kemudahan dalam memahami pesan yang disampaikan antara pemberi dan penerima, sehingga bahasa harus jelas, lengkap, pengiriman dan umpan balik harus seimbang.

Komunikasi yang efektif sangat layak kita perhitungkan dalam membangun karir kita. Dengan komunikasi yang baik tentunya akan mendukung segala aktifitas kerja yang kita lakukan. Apalagi bila pekerjaan kita melibatkan berbagai bentuk presentasi, rapat-rapat, lobi-lobi, penyuluhan dan lain-lainya. Bidang pekerjaan komunikasi seperti presenter dan sejenisnya sangat ditentukan oleh bagaimana cara kita berkomunikasi dalam menyampaikan sesuatu.

Banyak faktor yang dapat membuat apa yang akan kita sampaikan menjadi lebih berkualitas. Seperti kesiapan mental, penguasaan bahan, kelengkapan sarana pendukung serta hal-hal lainnya. Adakalanya kita merasa "nervous" hingga untuk mengungkapkan sesuatu, kita malah kehilangan percaya diri bahkan pembicaraan jadi berputar-putar.

John C Maxwell dalam "21 Kualitas Kepemimpinan Sejati" , mengatakan bahwa mengembangkan ketrampilan berkomunikasi yang sempurna sungguh sangat penting bagi kepemimpinan yang efektif. Sang pemimpin harus dapat membagi pengetahuan serta gagasan-gagasannya untuk menciptakan desakan serta antusiasme pada diri orang lain. Jika seorang pemimpin tak dapat menyampaikan pesan dengan jelas dan tak dapat memotivasi orang lain untuk menindaklanjutinya, maka memiliki pesan untuk disampaikannyapun menjadi percuma.

"Komunikasi bukanlah soal apa yang kita ucapkan, melainkan juga bagaimana kita mengucapkannya. Kunci komunikasi yang efektif adalah kesederhanaan. Lupakanlah upaya mengesankan orang dengan kata-kata atau kalimat-kalimat yang canggih. Jika kita ingin membangun hubungan dengan sesama, utamakanlah kesederhaan."

Read More..

Bencana dan Politik Pencitraan


Pascabencana dalam dua bulan terakhir. Mulai gempa Wasior, gempa diringi tsunami di Kepulauan Mentawai, dan letusan Gunung Merapi, semua korban selamat sangat membutuhkan bantuan, terutama logistik, obat-obatan, pakaian dan tempat berteduh. Beruntung berbagai elemen masyarakat terpanggil memberikan bantuan kepada para korban. Bantuan juga datang dari pemerintah.

Namun sayang, di balik derita para korban masih saja ada pihak yang tega bertindak tanpa mempertimbangkan etika moral. Seperti yang diberitakan di beberapa media massa, di tengah lokasi bencana dan pengungsi Merapi sekarang ini, ratusan spanduk berbagai merk seperti provider telepon seluler, makanan dan minuman, otomotif, bank swasta, dan merk produk lain seolah berlomba memasang spanduk, baligo dan umbul-umbul di lokasi bencana. Bahkan para kontestan pemilihan (parpol dan ormas) pun tak mau ketinggalan, mereka berlomba membentangkan spanduk dengan ukuran besar dan benderanya berkibar-kibar di udara.

Ya... Tujuannya tentu saja mendompleng nama di tengah duka korban hembusan awan panas Merapi. Bantuan yang mereka berikan seolah ditunggangi tendensi keuntungan dan kekuasaan. Betapa ironis dan memilukan sekali, di tengah kesedihan warga Merapi kekuatan kapital dan parpol tetap tak punya hati, mencoba menangguk keuntungan dan kekuasaan dengan cara-cara keji. Mereka larut dalam politik pencitraan (imagologi politic) yang tengah marak dalam lima tahun terakhir.

Membantu memberikan kebutuhan pokok tersebut seharusnya menjadi perhatian para parpol. Bukan malah ikut-ikutan berlomba-lomba memasang atau membentangkan spanduk di sekitar pengungsian. Pola tersebut justru melahirkan rasa tidak empati kepada masyarakat, terutama yang berada di pengungsian.

Bila mereka memiliki nurani ingin meringankan beban para korban, mengapa juga harus memasang spanduk atau media lainnya saat melakukan aksi kemanusian? Masyarakat tidak membutuhkan bentangan spanduk, baligo atau bendera mereka berkibar-kibar diudara. Yang diharapkan para pengungsi adalah kebutuhan pokok, selimut, obat-obatan dan tempat tinggal yang layak.

Sungguh "Dalam kekalutan masih banyak tangan yang tega berbuat nista..."

Read More..

Jabatan Dalam Paradigma Baru Terhadap Pekerjaan

Dalam bekerja, sikap masa bodoh atau tidak peduli pada bagian lain, sudah tidak bisa diterapkan lagi sekarang. Karena itu sebenarnya sama saja dengan bunuh diri. Mengapa? Karena kita perlu melihat pekerjaan sebagai set of skills yang bisa diaplikasikan dengan kombinasi yang berbeda-beda terhadap situasi kerja yang berbeda pula.


Kita sadari betapa dunia kerja semakin lama semakin kompleks, dan semakin bervariasi. Maka seseorang juga perlu memilih bidang spesifik lainnya. Atau bila kita bekerja di sebuah perusahaan besar, kita lebih baik melihat tugas kita sebagai proyek-proyek, atau kontrak-kontrak yang harus tuntas dan bernilai tambah.

Setidaknya dengan begitu, kita telah membangun jaringan (networking) secara berkesinambungan baik di dalam maupun di luar lingkup perusahaan. Selain itu kita justru mendapat kesempatan untuk membuka wawasan dan melihat kesempatan bagi pengembangan diri kita.

Dan kita juga harus berhati-hati agar tidak terjebak pada semata-mata menjalankan tugas sesuai job description, karena pedoman kerja itu juga bisa menjebak kita memandang pekerjaan sebagai "tugas", dan bukan sebagai ajang berkreasi atau value creating yang menyenangkan, fresh, unik, dan bisa berkembang sesuai dengan tantangan dan tuntutan pasar.

Kita tahu bahwa mengejar jabatan, dan merasa lega ketika mencapainya sekarang justru sudah dianggap sebagai paradigma kuno, kerangka berpikir 'djadul' yang merupakan awal dari stagnasi karir.

Titel pekerjaan, seperti dokter, insinyur, bankir, manajer, bahkan direktur, dulu sering membuat kita terpukau. Namun dalam dunia kerja yang kompleks, kita tahu titel pekerjaan menjadi tidak terlalu berarti lagi.

Ya... Jabatan perlu kita sikapi secara enterpreneurial untuk menciptakan kesempatan lebih lanjut.



Read More..

Anak, Salah Satu Investasi Akhirat yang Gemilang

Maraknya berita anak dibuang sudah pasti membuat kita miris. Betapa tidak, seorang anak yang notabene adalah amanah dari Yang Maha Kuasa ditelantarkan begitu saja. Bukankah bagi seorang anak, pahlawan yang agung adalah seorang dewasa yang berlutut membantunya, seraya berbisik "aku sangat menyayangimu", dan berharap pahlawan yang agung itu adalah orang tua mereka?

Seorang anak adalah "Permata Hati". Keberhasilan orang tua dalam mendidik anak dan menghiasi anak dengan akhlak mulia merupakan sebuah kesuksesan mengkonstruksi hidup dalam bingkai kebahagiaan. Ia bisa menjadi penyejuk mata, dan penentram hati bagi kedua orang tuanya, dan masyarakat yang ada disekitarnya.

Anak yang sholih (cerdas hati dan pikiranya) inilah yang akan menjadi penyambung kebahagiaan hakiki bagi orangtuanya di akhirat kelak. Ia adalah investasi akhirat yang gemilang. Lantas mengapa ia disia-siakan, diterlantarkan, atau bahkan dibuang begitu saja seperti membuang sampah yang tidak berguna? Betapa tega, dan berdosanya orang tua seperti itu.

Maka bisa pula yang terjadi justru sebaliknya (anak membuang orang tuanya), Liputan6.com, "Astaga, Ada Anak Membuang Ibunya". Hukum karma? Wallahualam... Tapi coba kita simak sejenak cerita berikut ini;

Suatu hari hiduplah sepasang suami istri bersama satu orang putra. Mereka tinggal bersama dengan kedua orangtuanya yang sudah lanjut usia dan buta. Pada awalnya keluarga tersebut hidup dengan tentram dan damai. Sang anak melakukan kewajiban merawat orangtuanya dengan sabar dan penuh bakti. Demikian juga dengan sang menantu, ia selalu setia mengikuti petunjuk sang suami. Tahun demi tahun pun berlalu. Belakangan, keluarga tersebut mengalami keretakan, dan berakhir dengan peristiwa yang sangat menyedihkan.

Suatu hari sang istri mulai merasa bosan merawat mertuanya yang sudah jompo dan buta tersebut. Ia mulai mencari cara untuk menyingkirkannya dari rumah mereka. Akhirnya ia mendapatkan sebuah cara yang amat keji. Tanpa ragu ia pun mengajak suaminya untuk menyingkirkan kedua orangtuanya. Sang istri mulai mendesak.

Istri : ”Pa, saya sangat bosan merawat orangtuamu itu. Mereka berdua sangat menyebalkan dan merepotkan aku. Aku minta singkirkan saja mereka dari rumah kita.”

Suami : ”Lho kenapa? Mereka kan orangtuaku, mereka sudah merawat dan membesarkan aku sampai saat ini. Bagaimana mungkin aku menyingkirkan mereka? Tidak, aku tidak akan menelantarkan orangtuaku…!”

Istri : ”Aku minta tolong singkirkan mereka dari rumah ini pa…!”

Suami : ”Tidak… itu perbuatan yang durhaka… aku tidak mungkin melakukannya…!”

Istri : ”Kalau begitu pilih salah satu saja…! Singkirkan orangtuamu atau aku yang pergi dari rumah ini untuk selama-lamanya”

Sang suami bagaikan memakan buah simalakama. Ia sangat menghormati dan berbakti pada orangtuanya. Namun ia juga sangat menyayangi istrinya. Ia tidak ingin kehilangan keduanya, tetapi sulit baginya untuk memutuskan. Setelah lama ia berpikir dan menimbang, akhirnya sang suami bersedia mengikuti kemauan istrinya. Rencana jahat mulai dilakukan berawal dari kebodohan sang istri.

Suami : ”Sekarang bagaimana aku melakukannya?”

Istri : ”Gampang Pa… Bilang saja pada orangtuamu, bahwa kamu mau mengajak mereka jalan-jalan ke suatu tempat.”

Suami : ”Lantas… bagaimana cara membawanya?”

Istri : ”Sekarang Papa bikin saja keranjang lalu gendong mereka dengan keranjang tersebut dan ketika tiba di hutan ditinggal saja di sana. Dengan begitu biar saja mereka dimakan harimau atau mati kelaparan. Yang penting sekarang kita terbebas dari kewajiban mengurus mereka. Bereskan?”

Sang suami mulai membuat sebuah keranjang. Di sudut ruangan, anaknya yang berusia lima tahun sedang memperhatikannya dan bertanya dengan polos.

Anak : ”Ayah sedang bikin apa?”

Ayah : ”Ayah sedang bikin keranjang nak.”

Anak : ”Untuk apa ayah bikin keranjang?”

Ayah : ”Untuk menggendong kakekmu sewaktu kita rekreasi nanti nak.”

Anak : ”Nanti kalau sudah selesai dipakai, tolong ayah simpan baik-baik di kamar ayah ya!”

Ayah : ”Lah untuk apa anakku sayang?”

Anak : ”Untuk nanti kalau ayah sudah seperti kakek, saya akan menggendong ayah berekreasi dengan keranjang itu juga ayah, biar saya tidak usah repot-repot bikin keranjang lagi kan? Ingat ya ayah!”

Sang ayah merenungkan kata-kata anaknya tadi. Hati sang ayah bergejolak, tangannya gemetar dan akhirnya ia pun menghentikan niat dan rencananya untuk membuang orangtuanya. Rupanya, kata-kata sang anak yang begitu polos telah menyadarkannya dari perilaku yang menyimpang. Ia teringat tentang hukum karma, hukum sebab akibat yang akan terus berputar. Ia pun memeluk anak semata wayangnya penuh kasih sayang dengan satu harapan "semoga anakku menjadi anak yang berbakti terhadap orangtua".

Demikianlah, hukum karma akan selalu berproses dan berlaku universal. Apakah orang percaya atau tidak, sadar atau tidak, diakui atau tidak, hukum karma universal ini akan bekerja sesuai alurnya kepada siapa saja tanpa kecuali.



Read More..

Celah Privacy di Farm Ville dan Mafia Wars Diakui Oleh Facebook

Sebuah berita mengejutkan dari Wall Street Journal yang berkaitan dengan penemuan baru bahwa sejumlah aplikasi di Facebook telah memberikan data user kepada perusahaan iklan dan organisasi pelacak Internet. Wall Street Journal mengatakan bahwa hal tersebut telah berdampak kepada jutaan pengguna Facebook, termasuk mereka yang telah menset profil dan setting privacy mereka ke setting yang paling aman sekalipun. Sementara Facebook menyatakan bahwa dampak ini tidak mungkin bisa mengekspose informasi pribadi user.

Dalam investigasinya Wall Street Journal menemukan bahwa ada 10 aplikasi Facebook yang paling populer, diantaranya ada game FarmVille, Mafia Wars dan Texas Hold’em yang mentransmisikan identitas pengguna Facebook, yang dikenal dengan nama UID, kepada perusahaan luar (periklanan dan Internet-tracking). Hal ini tentu bertentangan dengan aturan situs jejaring sosial tersebut. Apalagi Wall Street Journal juga menemukan bahwa 3 dari 10 aplikasi tersebut (peringkat dari perusahaan riset Inside Network Inc. berdasarkan pengguna bulanan) termasuk Zynga Game Jaringan Inc 's Farmville, dengan 59 juta pengguna, dan Texas HoldEm Poker dan FrontierVille tidak hanya mentransmisikan UID ke luar perusahaan Facebook, namun juga informasi pribadi mengenai teman-teman user yang bersangkutan.

Dalam aturan kebijakan Facebook melarang developer aplikasi untuk mengumbar informasi user ke jaringan periklanan atau broker data, dan tidak ada yang bisa mengakses data pribadi user tanpa izin dari user yang bersangkutan. Identitas user adalah nomor unik yang dipakai oleh setiap pengguna Facebook. ID Facebook adalah "publik", yang berarti seorang user dapat mencari user lain dengan menggunakan ID Facebook mereka, termasuk foto dan informasi user (apabila user telah mensetnya menjadi "share with everyone").

Maka sudah saatnyalah kita membiasakan diri untuk lebih berhati-hati dan bijak dalam beraktifitas di dunia maya. Karena siapapun tak akan rela bila data pribadinya dimanfaatkan pihak lain tanpa sepengetahuannya.


Read More..

Menjadi Pemenang Di Tempat Dan Waktu Yang Tepat

Jika Anda disodori sebuah pertanyaan tentang ilmu apa yang paling dibutuhkan saat ini, kira-kira apa pendapat Anda? Tentulah setiap orang memiliki pendapatnya sendiri-sendiri yang bisa jadi berbeda satu sama lain, karena istilah “ilmu yang paling dibutuhkan” ini juga bisa dilihat dari banyak sisi. Namun di sini marilah kita melihatnya dari sisi gaya hidup saat ini, di era digital (dalam gaya hidup digital).

Salah satu ciri yang begitu kental dalam gaya hidup digital adalah perubahan yang begitu cepat. Rasanya hal-hal baru selalu datang silih berganti. Belum selesai belajar satu hal, hal yang baru sudah muncul. Baru saja mempelajari teknologi A, teknologi B sudah muncul. Dalam keadaan yang seperti ini, ilmu apakah yang paling kita butuhkan?

Bila Anda berpendapat bahwa ilmu yang dibutuhkan adalah ilmu untuk belajar ilmu baru dengan cepat, itu artinya karena perubahan sekarang yang begitu cepatnya. Maka ilmu yang terpenting adalah "ilmu tentang cara belajar", ilmu tentang bagaimana mempelajari sesuatu yang baru dengan efektif. Dengan demikian saat ada ilmu baru muncul, kita bisa mempelajari dan menyerapnya dengan cepat pula.

Namun demikian, marilah kita coba memikirkannya kembali, apakah benar bahwa ilmu yang paling dibutuhkan adalah ilmu untuk belajar ilmu baru dengan cepat? Apakah kemampuan untuk belajar dengan cepat saja cukup? Hm... mungkin Anda mulai berpendapat lain bukan?

Yup, sekarang ini perkembangan begitu pesatnya, sehingga orang yang mampu belajar cepat pun tidak akan mampu mengikuti semuanya. Kalau ia berusaha mengikuti semuanya, maka ia hanya akan menjadi orang yang rata-rata saja. Dan orang yang rata-rata di jaman sekarang ini gawat, benar-benar gawat! Mungkin ia bisa saja melamar ke banyak macam pekerjaan, tapi di semua pekerjaan itu kemungkinan besar ia akan ditolak, mengapa? Karena selalu ada orang-orang yang lebih baik daripada dirinya. Di jaman sekarang ini, orang yang hanya rata-rata memang akan selalu kesulitan mendapat tempat.

Lalu apa lagi yang kita butuhkan? Dalam hal ini, bila kita hanya memiliki kemampuan belajar cepat saja tentulah tidak cukup. And then what else is still lacking?
Kita percaya bahwa jawabannya adalah "kemampuan untuk memilih ilmu yang tepat". Kita harus mampu memilih ilmu yang tepat dulu, dan baru kemudian mempelajarinya dengan cepat. Dengan cara ini kita akan menjadi orang yang unggul di bidangnya.

Maka ilmu yang paling dibutuhkan adalah "ilmu untuk memilih ilmu yang tepat dan mempelajarinya dengan cepat". This is the key!

Dengan memilih ilmu yang tepat maka kita akan bisa memaksimalkan potensi dan waktu kita hingga menjadi lebih efektif dan efisien. Tidak ada energi yang terbuang percuma. Semua energi kita difokuskan ke satu arah yang akan memberikan dampak terbesar. Dan ditambah lagi dengan kemampuan belajar cepat, maka kita akan menjadi orang yang unggul di bidang itu. Kita bisa menjadi pemenang di tempat dan waktu yang tepat. Sekarang pertanyaannya adalah, sudahkah kita menguasai ilmu yang paling dibutuhkan ini?



Read More..

Seiring Berjalannya Waktu, Sudahkah Kita Bermetamorfosis?

Waktu adalah sepenuhnya milik kita. Waktu bisa memberi kita kebebasan untuk belajar dari kesalahan masa lalu. Di sisi lain, kita juga telah dibuat tak berdaya oleh waktu. Pernahkah kita berada di suatu momen ketika segala sesuatunya berjalan, yang mungkin saja tidak sempurna, tapi semua berjalan seperti yang seharusnya, dan tak ada apapun di dunia ini yang kita inginkan selain "freeze the time"?

Saya pernah, dan mungkin Andapun pernah. Namun sayang, kita tidak dapat melakukan itu. Dan kita cuma bisa mengatakan: "Biarkanlah ia pergi". Dan lalu kehidupan kitapun terus berjalan. Tetapi apakah kita telah ikut pula berjalan?

Mungkin faktor bahasa kita yang tidak menggunakan pembagian waktu (tenses), sehingga mendidik kita untuk tidak memandang waktu sebagai potensi yang berharga. Atau mungkin kembali lagi ke penghargaan masing-masing individu terhadap waktu. Sekalipun saya tidak yakin itu, tetapi merupakan suatu hal yang saya percayai.

Ada sebuah paradoks romantis tentang waktu. Dengan segala keterbatasan waktu yang kita miliki, saat mengambil keputusan dalam memulai hubungan (atau apapun juga), haruskah kita menunggu atau bertindak saat ini juga? Lalu sudahkah kita bisa turut merasakan betapa romantisnya kenangan yang ditinggalkan waktu atau betapa romantisnya harapan yang disediakan saat kita tak sabar ingin menyatukan cinta dengan orang yang kita harapkan menjadi partner berbagi hidup?

Betapa romantisnya. Tapi sebelum kita terjebak lebih jauh lagi dengan romantisme waktu ini, sebaiknya segeralah kita sadar. Waktu yang hanya sepanjang 24 jam memang bisa membatasi gerak-gerik karena diluar kendali kita sebagai manusia. Namun, satu hal yang ada di tangan kita, yakni kebebasan menentukan pilihan yang kita ambil. Keputusan yang saya dan Anda ambil saat ini mempengaruhi apa yang kita rasakan, dapatkan, dan lakukan di masa yang akan datang.

Setelah mengevaluasi perkembangan apa saja yang sudah kita alami selama ini, baik secara mindset maupun dalam hal fisik dan penampilan. Sudahkah kita sepenuhnya bermetamorfosis? Karena selain kegagalan yang terjadi di masa lalu, yang sudah tentu merupakan hal yang wajar dan manusiawi sekali, langkah yang paling penting adalah bagaimana kita bisa memutuskan untuk merangkul masa lalu kita.

Yah... kita harus bisa menghargainya sebagai bagian hidup yang paling berharga yang bisa menjadikan kita seperti hari ini dan yang terpenting yaitu sepenuh hati mencurahkan setiap potensi yang kita miliki untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi dari waktu ke waktu.

Bila kita mau berubah, lakukanlah saja sekarang, saat ini juga! Tidak ada gunanya untuk menunda hingga besok, apalagi lusa. Keputusannya memang ada di tangan kita, tapi waktu yang kita pilih juga menentukan. Maka lakukan sekarang!


Image Hosted by ImageShack.us


Read More..

Mungkinkah Kereta Api Telah Berubah Menjadi Monster Menakutkan?

Kereta api adalah salah satu jenis transportasi darat yang cukup di minati masyarakat. Kehadiran kereta api di Indonesia ditandai dengan pencangkulan pertama pembangunan jalan KA didesa Kemijen Jum'at tanggal 17 Juni 1864 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Mr. L.A.J Baron Sloet van den Beele. Pembangunan diprakarsai oleh "Naamlooze Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij" (NV. NISM) yang dipimpin oleh Ir. J.P de Bordes dari Kemijen menuju desa Tanggung (26 Km) dengan lebar sepur 1435 mm. Ruas jalan ini dibuka untuk angkutan umum pada Hari Sabtu, 10 Agustus 1867.

Keberhasilan swasta, NV. NISM membangun jalan KA antara Kemijen - Tanggung, yang kemudian pada tanggal 10 Februari 1870 dapat menghubungkan kota Semarang - Surakarta (110 Km), akhirnya mendorong minat investor untuk membangun jalan KA didaerah lainnya. Tidak mengherankan, kalau pertumbuhan panjang jalan rel antara 1864 - 1900 tumbuh dengan pesat. Kalau tahun 1867 baru 25 km, tahun 1870 menjadi 110 km, tahun 1880 mencapai 405 km, tahun 1890 menjadi 1.427 km dan pada tahun 1900 menjadi 3.338 km.

Selain di Jawa, pembangunan jalan KA juga dilakukan di Aceh (1874), Sumatera Utara (1886), Sumatera Barat (1891), Sumatera Selatan (1914), bahkan tahun 1922 di Sulawasi juga telah dibangun jalan KA sepanjang 47 Km antara Makasar - Takalar, yang pengoperasiannya dilakukan tanggal 1 Juli 1923, sisanya Ujungpandang - Maros belum sempat diselesaikan. Sedangkan di Kalimantan, meskipun belum sempat dibangun, studi jalan KA Pontianak - Sambas (220 Km) sudah diselesaikan. Demikian juga di pulau Bali dan Lombok, juga pernah dilakukan studi pembangunan jalan KA.

Sampai dengan tahun 1939, panjang jalan KA di Indonesia mencapai 6.811 km. Tetapi, pada tahun 1950 panjangnya berkurang menjadi 5.910 km, kurang lebih 901 km raib, yang diperkirakan karena dibongkar semasa pendudukan Jepang dan diangkut ke Burma untuk pembangunan jalan KA disana.

Jenis jalan rel KA di Indonesia dibedakan dengan lebar sepur 1.067 mm; 750 mm (di Aceh) dan 600 mm dibeberapa lintas cabang dan tram kota. Jalan rel yang dibongkar semasa pendudukan Jepang (1942 - 1943) sepanjang 473 km, sedangkan jalan KA yang dibangun semasa pendudukan Jepang adalah 83 km antara Bayah - Cikara dan 220 km antara Muaro - Pekanbaru. Ironisnya, dengan teknologi yang seadanya, jalan KA Muaro - Pekanbaru diprogramkan selesai pembangunannya selama 15 bulan yang memperkerjakan 27.500 orang, 25.000 diantaranya adalah Romusha. Jalan yang melintasi rawa-rawa, perbukitan, serta sungai yang deras arusnya ini, banyak menelan korban yang makamnya bertebaran sepanjang Muaro - Pekanbaru.

Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, karyawan KA yang tergabung dalam "Angkatan Moeda Kereta Api" (AMKA) mengambil alih kekuasaan perkeretaapian dari pihak Jepang. Peristiwa bersejarah yang terjadi pada tanggal 28 September 1945, pembacaan pernyataan sikap oleh Ismangil dan sejumlah anggota AMKA lainnya, menegaskan bahwa mulai tanggal 28 September 1945 kekuasaan perkeretaapian berada ditangan bangsa Indonesia. Orang Jepang tidak diperkenankan lagi campur tangan dengan urusan perkeretaapian di Indonesia. Inilah yang melandasi ditetapkannya 28 September 1945 sebagai Hari Kereta Api di Indonesia, serta dibentuknya "Djawatan Kereta Api Republik Indonesia" (DKARI). (http://www.kereta-api.com)

Tetapi, sejarahnya yang panjang tidak membuat perkereta api-an di Indonesia menjadi semakin lebih baik malah semakin memprihatinkan. Baru-baru ini tabrakan KA di Pemalang Jawa Tengah antara Kereta Api Argo Anggrek dan KA Senja Utama, menggugah kembali rasa prihatin masyarakat akan buruknya pelayanan PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Dalam dunia perkeretaapian, kecelakaan yang dianggap paling konyol adalah tabrakan antara dua lokomotif berhadapan (head to head). Asumsinya, masing-masing masinis berada di posisi paling depan dan paling tahu keadaan serta bisa segera bertindak jika ada hal-hal yang membahayakan, misalnya, ada kereta lain di depan.

Kecelakaan jenis lain, misalnya, terguling akibat rel bergeser, atau bahkan menabrak KA dari belakang (tabrakan KA di Pemalang), dianggap masih lebih rendah derajatnya daripada head to head. Memang bisa saja terjadi head to head akibat kesalahan arah karena "salah wesel", artinya perangkat wesel memindahkan arah ke rel yang ada keretanya. Tetapi, itu jarang terjadi, sebab umumnya kereta api mengurangi kecepatannya kalau masuk stasiun, terutama kalau ada tanda masuk rel belok.

Yah.., setiap kecelakaan tentu ada sebabnya, termasuk kecelakaan transportasi yang mungkin dapat dicegah. Yang secara umum terdapat 2 hal pokok, yaitu: perilaku kerja yang berbahaya (unsafe human act) dan kondisi yang berbahaya (unsafe conditions). Dari penelitian-penelitian yang telah sering dilakukan ternyata faktor manusia memegang peran penting dalam hal timbulnya kecelakaan. Penelitian menyatakan bahwa 80% - 85% kecelakaan disebabkan oleh kelalaian atau human error.

Karena itulah semua kesalahan kerap ditimpakan pada peralatan atau paling sering faktor human error. Teori memang menyebutkan, dari setiap kecelakaan, 80 persen penyebabnya adalah faktor manusia, sementara peran cuaca, perangkat teknik dan sebagainya tidak terlalu besar. Dan masinis memang selalu jadi kambing hitam paling empuk. Sudah kena CO (commissie van onderzoek - pemeriksaan internal), juga bisa kena pidana kalau menyangkut nyawa manusia. Dan secara kasat mata mungkin saja mereka memang salah bila menjalankan KA tanpa taat prosedur.

Mungkinkah kereta api telah berubah menjadi monster menakutkan karena kecelakaan yang membawa korban jiwa? Semoga tidak. Dan semoga pula kereta api tetap di minati masyarakat sebagai jenis transportasi darat yang murah, aman dan nyaman.


Read More..

Apa Imbalannya Kita Melakukan Kebaikan?

Pernahkah Anda mendengar teman sejawat Anda bertanya; "Jika saya memberi lebih kepada perusahaan, apa imbalannya untuk saya?" Terdengar familiar bukan? Sejauh yang kita sama tahu, lumrahnya orang yang berkontribusi lebih akan mendapatkan imbalan lebih. Hanya saja, kadang imbalan tidak selalu berupa uang. Sebab ketika seorang atasan menepuk bahu bawahannya karena hasil kerjanya lebih baik dari teman-temannya; itu adalah termasuk suatu imbalan. Ketika para pelanggan lebih puas dengan pelayanan kita dibandingkan yang dilakukan oleh teman-teman kita, maka itupun sebuah imbalan.

Dalam kehidupan duniawi, tidak semua perbuatan baik mendapatkan imbalan yang pantas. Perusahaan banyak yang pelit kepada karyawan, atasan banyak yang tidak adil dalam mengambil keputusan, teman banyak yang mengklaim pekerjaan orang lain sebagai miliknya sendiri. Sedangkan Tuhan, tidak pernah keliru dalam menilai dan memberi imbalan. Hitungannya sudah pasti dijamin akurat. Oleh karena itu hanya kepada Tuhanlah kita menggantungkan harapan. "Wa ilaa robbika farghob" yang berarti "Dan kepada Tuhanmulah hendaknya kamu menggantungkan harapan."

Maka marilah kita terus berkarya, hingga sebanyak mungkin potensi diri kita yang dapat didayagunakan. Agar banyak manfaat yang bisa kita tebarkan. Sedangkan imbalannya, mungkin kita dapatkan secara kontan di dunia. Atau mungkin langsung dimasukkan kedalam rekening tabungan kita untuk bekal diakhirat kelak.

Dan mari setelah kita menyelesaikan suatu kegiatan yang baik, kita lakukan lagi kegiatan baik lainnya. Menyelesaikannya, lalu mulai lagi dengan kegiatan baik lainnya lagi. Terus menerus begitu. Mumpung kita masih punya waktu sebelum Tuhan menyetop waktu kita di dunia.



Meski kebaikan yang kita lakukan itu kecil saja, imbalannya tetap ada
dan bermakna.


Read More..

Apakah Kita Telah Benar-benar Bertanggungjawab Dengan Waktu Kita?

Tahukah Anda salah satu keluhan yang paling sering kita lontarkan adalah tentang keterbatasan waktu? Mungkin pernah atau bahkan saat ini, kita merasa seolah-olah pekerjaan yang harus kita selesaikan begitu banyaknya. Sehingga hal-hal yang seharusnya selesai, malah terbengkalai.



Bagi orang-orang yang berpikiran positif, selalu memandang keterbatasan waktu sebagai sinyal baginya agar benar-benar memanfaatkan waktu yang tersedia untuk hal-hal yang bermanfaat. Mereka memastikan bahwa waktunya digunakan dengan efektif, untuk hal-hal yang positif secara produktif. Sedangkan bagi orang-orang yang berpikiran negatif, memandang keterbatasan waktu sebagai penghalang, sekaligus alasan untuk tidak menyelesaikan tanggungjawabnya. Pertanyaannya sekarang adalah; apakah memang pekerjaan kita yang terlalu banyak, ataukah kita yang tidak benar-benar menggunakan waktu yang kita miliki untuk hal-hal yang berguna?

Ironis sekali bila seringkali kita mengatakan kepada atasan bahwa kita tidak mempunyai cukup waktu untuk mengerjakan begitu banyaknya tugas ini dan itu yang dibebankan perusahaan kepada kita. Kita mengeluhkan terlalu banyaknya pekerjaan; sementara disaat seharusnya kita bekerja, kita mungkin malah menyia-nyiakan waktu kita untuk sesuatu yang sama sekali tak berguna buat perusahaan yang membayar kita. Tidak juga bisa menjadikan diri kita tambah pintar, atau lebih terampil.

Kitapun bukannya harus bersembunyi dari atasan kita. Karena permasalahannya bukan terletak pada apakah kita bisa bersembunyi dari atasan atau tidak. Bukan pula apakah waktu itu kita sia-siakan dengan mengobrol yang tidak jelas atau melakukan hal lain yang kurang bermanfaat. Melainkan apakah kita telah benar-benar bertanggungjawab dengan waktu kita?

Ada orang yang mengatakan; "Setelah semua pekerjaan sudah saya selesaikan, maka soal sisa waktu yang ada, itu adalah mutlak urusan saya. Mau saya gunakan untuk apa sisa waktu itu terserah saya."
Jika kita mendengar perkataan semacam ini, perlu diuji kebenarannya. Betulkah pekerjaan orang ini sudah selesai? Atau barangkali memang perusahaan telah salah mempekerjakan orang.

Jaman sekarang perusahaan-perusahan lebih membutuhkan orang-orang yang bukan hanya terampil. Tetapi juga penuh inisiatif. Karena orang-orang
yang sekedar terampil mungkin bisa menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan juklak. Sedangkan orang-orang yang melengkapi keterampilannya dengan inisiatif; bukan sekedar akan menyelesaikan pekerjaan, melainkan datang kepada atasannya dengan gagasan-demi gagasan. Sebab orang-orang yang penuh inisiatif tidak perlu menunggu sang atasan
untuk menyuruhnya melakukan tugas ini dan itu. Dia sendirilah yang berinisiatif untuk itu. Lagi pula, mana ada atasan yang bisa selamanya mengawasi dan menyuapi setiap bawahan?

Dalam Al-Quran ayat ke-7 surat Alam Nasyroh yang berbunyi; "Fa idzaa faroghta fanshob". Yang bila diterjemahkan kalimat itu berarti; "Maka ketika engkau telah selesai mengerjakan suatu urusan, maka kerjakanlah urusan berikutnya."
Dengan kata lain, kalimat itu mengingatkan kita tentang betapa banyaknya hal yang menunggu untuk kita tangani. Sehingga, sesungguhnya kita tidak memiliki cukup alasan untuk berhenti berkarya. Oleh karena itu, orang-orang yang mengikuti nasihat ini bersedia berpindah dari satu tugas kepada tugas lain. Dari satu aktivitas kepada aktivitas lain. Dari satu pencapaian, kepada pencapaian lain.

Kalau begitu kapan sih kita boleh beristirahat? Yah, waktunya istirahat, maka kita istirahat saja. Dan disaat kita harus bekerja, maka bekerjalah kita. Jika kita bisa menempatkan kedua hal itu saja, kita sudah menjadi pribadi yang lebih baik. Dan dengan prinsip ini tidaklah mungkin kita mengatakan bahwa pekerjaan kita sudah selesai. Sebab jika demikian; apa alasan perusahaan memperpanjang masa kerja kita? Bukankah tidak ada gunanya bagi perusahaan? Ngapain mempekerjakan karyawan untuk suatu pekerjaan yang sudah selesai?



Sebelum mengeluhkan bahwa waktu yang kita miliki tidak cukup,
lebih baik terlebih dahulu memastikan bahwa kegiatan yang kita lakukan
cukup berharga untuk mengisi waktu yang sedikit itu.


Read More..

Bos Anda Adalah Cerminan Perilaku Anda

Bagi Anda yang bekerja di perusahaan mana saja, menjadi bawahan yang dipimpin oleh pimpinan yang simpatik, gak bossy, bukan pimpinan yang hanya bisa mengumbar janji surga, pimpinan yang mengasihi bawahannya, pimpinan yang gak suka menekan dan menyengsarakan seluruh karyawan, merupakan sebuah keberuntungan yang patut disyukuri dengan bekerja sepenuh hati, penuh semangat, tanpa stres oleh perilaku atasan Anda.

Seperti dalam sebuah rumah tangga, bila citra sang suami bagus, maka citra istrinyapun ikut bagus. Begitu pula dalam lingkup pekerjaan, bila citra seorang atasan bagus maka citra bawahannya juga turut bagus. Semua bermula dari atas dan mengalir ke bawah.

Pimpinan seperti itu merupakaan dambaan bagi bawahan yang memiliki pimpinan yang justru kebalikannya, apalagi yang cenderung arogan. Tentu menyebalkan bekerja dengan pimpinan seperti itu.

Nah Bagaimana bila keadaannya terbalik seperti itu? Dalam keadaan demikian, jujur saya pribadi kurang setuju bila Anda mengatakan “Jangan mencoba untuk mengubah perilaku atasan Anda : Sesuaikan perilaku anda dengan atasan Anda”. Hmm… mungkin akan lebih baik bila kalimat itu dibalik menjadi, “Cobalah untuk mengubah perilaku atasan Anda : Jadikan perilaku anda sebagai cerminan bagi atasan Anda”.

Karena bisa saja justru citra bagus atasan adalah cerminan dari citra bawahannya yang ciamik. Mengapa tidak? Tinggal pertanyaannya sekarang, bisakah kita menjadi cerminan bagi atasan kita? Yah setidaknya Anda pasti tahu dengan ungkapan seperti ini; belajar bisa dari mana saja dan dari siapa saja, ya kan? Soal berhasil atau tidak, tak ada salahnya untuk mencoba.

Maka mari jadikan diri Anda sebagai bawahan yang bisa dijadikan cerminan atasan Anda.

Sadari saja sejak awal bahwa Anda itu bawahan.
Nah kalau yang namanya bawahan ya... bawahan saja, nggak pakai acara punya perilaku seperti atasan. Masalahnya kalau bawahannya sudah kayak atasan, apa gunanya atasan belajar dari bawahannya bukan? Karena kalau bawahan sok nge bossy, yaa... atasannya juga nanti belajar jadi bossy, wew parah…hahaha

Juga jadilah bawahan yang apa adanya.
Bilang ‘BISA’ kalau bisa, bilang ‘TIDAK BISA’ kalau memang tidak bisa. Jangan pernah janji-janji surga. Karena bila tak terpenuhi Anda akan dianggap sebagai pengumbar janji surga. Parah bukan kalau atasan belajar dari bawahan macam itu? Hingga nantinya atasan jadi mengikuti perilaku Anda.

Ya… ya… bisa jadi kalau sekarang Anda punya atasan yang hanya bisa mengumbar janji surga (dan kalau ditanya mengatakan ‘tak pernah mengatakan itu’), mungkin atasan Anda malah sudah belajar dari Anda sebagai bawahannya. Kan Anda pasti setuju dengan pendapat yang mengatakan ini, inspirasi negatif atau positif bisa datang dari mana saja, …hahaha. Makanya sebagai bawahan jangan macam-macam dalam memberi inspirasi.

Dan kalau jadi bawahan jangan suka menjegal sesama kolega.
Karena sebagai bawahan tak berarti Anda jadi bos (hanya karena masih ada orang yang punya posisi di bawah Anda). Dan kalaupun Anda berpredikat manager, Anda itu masih bawahan manager senior. Jadi kalau Anda dikasihi senior Anda, ya kasihanilah bawahan Anda. Jangan pernah Anda dikasihi atasan, lalu Anda malah menekan bawahan dan membuat hidup bawahan seperti di neraka. Bahayanya nanti atasan Anda akan belajar dari perilaku Anda itu dan menjadi manusia yang suka menekan dan menyengsarakan seluruh karyawan.

PS:
Dibawah ini oleh-oleh award dari sahabat blogger, mbak Dina (Ducky). Dua buah Award yang memang belum ada dalam koleksi awardku, terimakasih ya mbak… Glad to know you.





Read More..

Mengapa Tak Kita Manfaatkan?

Penanggalan lama telah lepas dari dinding waktu, terkulai layu meninggalkan kenangan kepedihan dan kebahagiaan, kegagalan dan keberhasilan. Apakah di tahun yang baru ini kita mampu mengarifi dan belajar dari apa yang telah kita alami dan raih di tahun kemarin?

Saat udara malam pergantian tahun terhirup, sebuah asa seakan mengalir memenuhi rongga dada, memenuhi paru-paru, lalu mengendap di benak kita. Sebuah momen yang sungguh sayang bila disia-siakan, karena masih banyak tugas yang belum tunai di tahun kemarin. Masih banyak rencana dan harapan yang belum terlaksana.

Saya dan juga Anda tentu berharap banyak di tahun yang baru ini...
Harapan untuk menjadi lebih baik dari kemarin,
Harapan untuk menghindari tindakan bodoh yang pernah dilakukan kemarin,
Harapan untuk lebih berhasil dari keberhasilan kemarin,
Harapan untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya dari pada kemarin,
Dan beribu harapan yang mungkin pula berbeda antara harapan orang yang satu dengan yang lainnya. Namun satu core dari semua itu, kita masih memiliki semangat yang tak ternilai, selama kita masih memiliki banyak harapan.

Mungkin pula itu yang mendasari keinginan memanfaatkan momen pergantian tahun ini dengan sesuatu yang lain, yang tentunya dengan sebuah harapan yang baru pula. Seperti warna dan style template yang saya pilih untuk blog saya di tahun ini. Lumayan sederhana dan meneduhkan. Semoga Anda menyukainya pula dan betah singgah berteduh di sini.


Kehidupan sering kali memberikan hal terbaiknya untuk kita, seperti menawarkan momen demi momen terhebat di sepanjang perjalanannya. Bahkan momen sekecil dan sesederhana apapun, bila kita mampu menjadikannya sebagai pemacu bagi kita untuk menjadi lebih baik lagi dari pada hari kemarin, mengapa tak kita manfaatkan?



Read More..

Tetap Fokus Pada Kebaikan

Pernahkah Anda mempersiapkan sebuah event secara mendadak; tanpa schedule, tanpa kepastian kapan hari ‘H’ nya? Hal demikian kami alami kemarin, saat terlibat dalam kepanitiaan event tahunan yang berbudget tidak sedikit.

Rencana yang semula dijadwal akan diselenggarakan pada bulan Oktober (karena rutinnya demikian), terpaksa molor hingga akhir tahun. Dan keputusan hari ‘H’ pada pertengahan bulan Desember itupun kami terima pada awal bulan itu, huff…

Dalam tempo 12 hari kami melanjutkan persiapan pelaksanaan event tersebut. Hingga wajarlah bila tahapan proses terpaksa dipadatkan namun tak terkesan asal-asalan.

Singkat cerita tibalah pada hari ‘H’ event tersebut. Lumayan sport jantung juga, karena kami baru kali ini melaksanakan sebuah event yang sekalipun rutin namun bisa dibilang persiapannya singkat sekali.

Hampir semua tamu undangan bisa hadir, namun sayang dua orang tamu penting yang paling ditunggu kehadirannya, akhirnya positif batal hadir dan hanya mengirim perwakilannya. Yeah, mau bilang apa? Namanya juga pejabat penting, kecewa... sudah pasti.

Gedung yang sanggup menampung 1500 orang lebih itu akhirnya dipenuhi para tamu undangan, dan langsung dipersilahkan menikmati hidangan yang disediakan di hampir setiap tempat dalam Exibition Hall. Acara santap siang sukses…

Acara berikutnya berlanjut di Auditorium Hall dimana acara ceremony serta acara hiburan dilangsungkan. Dan hingga acara terakhir berlangsung lumayan lancar tanpa gangguan berarti karena hanya masalah timing acara saja yang sedikit meleset namun dapat teratasi berkat plan ‘B’ (mc: bla..bla..bla..).

Huff… keringat letih selama persiapan hingga acara selesai, seakan terbayar sudah. Dan yang terpenting dari sana, ada sebuah nilai yang didapat, bahwa;


“Sebuah proses, betapapun kacaunya, bila semua tetap fokus pada kebaikan, maka hasilnyapun akan memuaskan”.



Read More..

Lajang atau Taken? Nikmati Saja Waktu Yang Ada

Dalam keadaan status apapun, baik itu yang masih lajang ataupun yang sudah menikah, dalam kehidupan memang kadang tidak selalu menyenangkan. Bagi yang masih lajang kadang diendapi rasa sedih hati karena masih sendiri. Dan bagi yang sudah menikah kadang sebal karena ternyata pernikahan tak seindah yang dibayangkan. Bagaimanapun juga ada keuntungan lebih baik bagi Anda yang sudah menikah maupun belum.

Keuntungan bagi Anda yang masih berstatus lajang;

Kebebasan beraktifitas
Sebagai seseorang yang belum berkomitmen penuh dalam pernikahan, Anda bebas melakukan aktifitas apapun tanpa perlu memikirkan pengaruh aktifitas Anda terhadap pasangan Anda.

Punya banyak waktu lebih
Anda memiliki banyak waktu untuk melakukan aktifitas yang berhubungan dengan hobi Anda, mengejar apa yang Anda suka dan ingin Anda raih. Hal ini dimungkinkan karena Anda tak perlu membagi waktu Anda dengan pasangan Anda.

Lebih fleksibel
Anda tidak perlu memikirkan pertimbangan pasangan Anda dalam hal merencanakan sesuatu. Dan Anda tidak perlu khawatir rencana Anda akan berbenturan dengan keinginan pasangan Anda. Karenanya Anda menjadi lebih fleksibel dalam merencanakan sesuatu.


Dan keuntungan bagi Anda yang berstatus menikah;

Memiliki sahabat yang siap menemani
Anda tak perlu mencari teman, saudara, atau anggota keluarga Anda agar ada yang menemani Anda.

Memiliki perasaan yang selalu terpenuhi
Dalam hal pernikahan yang dilandasi cinta, hidup bersama orang yang Anda cintai akan memberikan Anda perasaan terpenuhi dalam diri sendiri (fulfillment). Bukankah melakukan segala hal bersama seperti melakukan hobi bersama dengan orang yang Anda cintai tentu akan memberikan perasaan terpenuhi, kebahagiaan, dan kedekatan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata?

Kepuasan akan kehadiran buah hati
Dalam pernikahan Anda, kehadiran anak Anda tentu akan membawa kebahagiaan, keceriaan dan tawa dalam kegiatan keluarga. Bukankah melihat seorang anak yang tumbuh besar merupakan kepuasan yang tak tergambarkan? Sungguh tak ada yang bisa mengalahkan kepuasan tersebut.


Sementara studi mengatakan bahwa kini gap kebahagiaan antara yang menikah atau melajang kian sempit saja. Benar mereka yang menikah masih lebih bahagia daripada yang lajang, hanya saja bedanya kian tipis. Apakah ini berarti para lajang juga kelak akan sebahagia mereka yang menikah? Para lajang saat ini terbukti lebih sehat dan bahagia daripada lajang tiga dasawarsa silam, begitu menurut studi.

“Satu dari fakta yang sering didokumentasikan adalah bahwa orang yang menikah lebih sehat dari yang tidak. Dan itu masih tetap berlaku. Hanya jurang perbedaannya makin lama makin sempit,” ujar Hui Liu, asisten profesor dan pakar sosiologi di Michigan State University.

Pertanyaannya mengapa orang yang menikah lebih sehat daripada yang lajang? Ada teori yang mengatakan, menikah membuat kita lebih banyak mendapat akses ke dukungan sosial dan sumber ekonomi. Sedangkan lajang yang diakibatkan kematian atau cerai akan mengalami sakit hati. Namun demikian kecenderungan menikah telah mengalami perubahan dramatis dalam beberapa dasawarsa terakhir, sebab makin banyak orang yang melajang hingga usia tua. Alasan utamanya bisa jadi karena para lajang lama-kelamaan juga mendapat dukungan sosial lebih baik di masa kini daripada masa lalu.

Itulah beberapa keuntungan bagi penyandang gelar status single ataupun taken alias sudah menikah, dan kenyataan bahwa kini gap kebahagiaan antara yang menikah atau melajang kian sempit. So apakah Anda mau menikah atau tidak? Yang pasti apapun status Anda saat ini, nikmatilah waktu yang ada. (Sumber; livescience & perempuan.com)


Read More..

Melihat Sisi Positif Dari Sebuah Kemajuan

Kita telah melihat di sejumlah kota-kota besar di dunia sedang mewabah teknologi berbasis Wireless Fidelity (Wi-Fi). Sebuah terobosan teknologi penyebab konvergensi kegiatan masyarakat menjadi semakin dekat dan merapat. Melalui teknologi ini seseorang dapat terkoneksi dengan pihak lain memanfaatkan koneksi internet dan gelombang radio tanpa harus mencari tempat khusus yang ada colokan telepon dan listriknya.

Sementara bagi yang belum memiliki fasilitas Wi-Fi card dapat mencari dengan mudah colokan telepon untuk internet di titik telepon umum. Tambahan kartu inilah yang membuat banyak masyarakat dunia, khususnya di negara maju tinggal melakukan klik-klik-klik tarrraaa... maka tersambunglah ia dengan seluruh dunia.

Itulah ICT atau Information Communication Technology yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat di kota-kota metropolis, yang menjadi kemudi bagi perubahan gaya hidup. Dan gejala khusus ini menunjukkan bahwa tatanan kehidupan mulai berubah kearah yang lain dari sebelumnya.

Kebiasaan-kebiasaan pagi dan siang hari telah berubah, khususnya yang berkaitan dengan kegiatan yang dapat dilaksanakan dengan memanfaatkan tekhnologi Wi-Fi ini, semisal kegiatan sejumlah profesional di perkantoran. Waktu kerja yang semakin fleksibel, waktu luang untuk pribadi dan keluaraga yang semakin banyak, paperless, delivery time yang semakin mengukuhkan pada right time.

Adanya Nettop dan Desknote (PC desktop yang ringkas) serta Netbook (hardware komputer yang menggabungkan Laptop ke arah nano technology), dapat mengakomodir cepatnya perubahan teknologi komputer ini. Kira-kira intinya bahwa pasar dan komunitasnya akan semakin terkonvergensi.

Itulah dunia nyata di sekeliling kita yang kian menunjukkan bahwa sangat cepat sebuah produk berikut format sistemnya berubah dan menjadi kadaluarsa. Serasa baru kemarin belajar produk baru, eh...hari ini sudah ada lagi produk yang lebih baru muncul. Lantas kita berpikir, kapan kita bisa menikmatinya dengan tenang? Kapan kita bisa merasakan manfaat dari investasi kita? Hahaha...

Mungkin yang penting bagi kita sekarang dan kedepan adalah bagaimana cara kita agar dapat terkoneksi dengan baik dan murah serta berkualitas, sehingga turut pula membuat kualitas hidup kita lebih baik lagi, karena itulah fungsi dari sebuah kemajuan dan menjadi satu bukti untuk melihat dari sisi yang lain yang lebih positif.


Read More..

Karena Suatu Alasan

Setiap orang selalu memiliki pengharapan tersendiri. Pengharapan itu biasanya berupa suatu cita-cita agar keadaan kelak lebih baik. Mungkin semua orang di dunia ini punya mimpi menjadi orang pilihan. Seorang yang mempunyai kelebihan atau keistimewaan dibanding orang kebanyakan.Orang seperti ini tentu bisa berasal dari kalangan mana saja. Tak harus orang kaya, berpangkat atau aristokrat. Seorang pilihan bisa saja muncul dari seleksi alamiah atau hasil tempaan pengalaman yang tak terduga.

Tepis rasa kecewa dan frustrasi bila dihadapkan pada kegagalan. Karena suatu keberhasilan belum tentu sebuah kesuksesan, dan ketidak-berhasilan belum tentu pula sebuah kegagalan atau kesialan. Jangan bilang "Aku bukan pilihan", karena bukan tanpa alasan mengapa tidak menjadi yang terpilih.

Karena suatu alasan,
tak menjadi yang terpilih
walau sangat ingin.
Mungkin Tuhan memiliki alasan lain
mengapa tak terpilih,
mungkin bukan sebagai itu.

Tetapi pasti...
Itu bukan kekalahan,
itu adalah kemenangan.
Kemenangan karena sebuah kekalahan.

Semua terjadi karena suatu alasan.
Tetap, hidup tuk bersyukur pada Tuhan,
karena tak semua doa dikabulkan-Nya.
_***_



Read More..

Menganalisa Secara Berlebihan, Perlukah?

Kepintaran dan kejeniusan logika terkadang menjadi halangan yang sangat besar untuk meraih kesuksesan. Karena bisa saja otak logika kita sendiri menantang dan menarik kita untuk tidak maju dan hanya lari-lari ditempat, merasa sudah berusaha dan melakukan yang terbaik, tapi pada kenyataannya itu hanya dipikiran kita saja. Jadilah kita merasa maju dengan cepat dan berlari ke depan, tapi pada kenyataannya kita hanya lari di tempat. Mengapa? Karena kita sering berfikir dengan hanya berfikir kita sudah melakukan 'action' dan pada saat 'hasil' yang kita inginkan tidak kunjung datang, kita menyalahkan nasib atau takdir kita, padahal itu salah kita sendiri.

Lantas apa yang harus kita lakukan?

Berhenti menganalisa secara berlebihan, 'Just do it no matter what's going to happen'.

Mungkin kita ingat sebuah cerita Yunani kuno…
Beberapa ribu prajurit Yunani berlayar ke sebuah pulau, dan ternyata setelah mereka tiba di pulau tersebut mereka baru tau dan mendapati bahwa musuh mereka delapan kali lebih banyak. Sebenarnya mereka masih punya kesempatan untuk lari dan mundur, namun sang pemimpin sudah membakar semua kapal tanpa ada yang tersisa. Pilihan mereka kini tinggal dua; 'menang' atau 'mati' dan mereka akhirnya 'menang'. -***-


PS.
Aku dapet PR ini juga akhirnya, dari Mbak Fanny yang sekarang blognya strawberry abis (Ehk... tapi strawberry memang banyak faedahnya, dan salah satunya biar awet muda. Itu mungkin jadi sebab mengapa buah ini cocok disebut 'buah cinta'. Karena strawberry adalah buah yang dapat menjadi kado penuh cinta dari Anda untuk kesehatan tubuh Anda sendiri). Hei... kok aku malah bahas strawberry sih... hahaha.

Yup, kembali ke PR dari Mbak Fanny, nih dia awardnya :



Dan PR nya berbunyi begini, Anda harus meletakkan link-link berikut ini di blog atau artikel Anda :

1. Friendster
2. Google
3. Robby Hakim
4. AeArc
5. Surya-tips
6. Antaresa Mayuda
7. Ranggagoblog
8. Buwel
9. Sang Cerpenis
10. Rana Rasuna

Tapi ingat, sebelum Anda meletakkan link diatas, Anda harus menghapus peserta nomor 1 dari daftar. Sehingga semua peserta naik 1 level. Yang tadi nomor 2 jadi nomor 1, nomor 3 jadi 2, dst. Kemudian masukkan link Anda sendiri di bagian paling bawah (nomor 10). Tapi ingat ya, Anda harus fair dalam menjalankannya. Jika tiap penerima award mampu memberikan award ini kepada 5 orang saja dan mereka semua mengerjakannya , maka jumlah backlink yang akan didapat adalah :

Ketika posisi Anda 10, jumlah backlink = 1
Posisi 9, jml backlink = 5
Posisi 8, jml backlink = 25
Posisi 7, jml backlink = 125
Posisi 6, jml backlink = 625
Posisi 5, jml backlink = 3,125
Posisi 4, jml backlink = 15,625
Posisi 3, jml backlink = 78,125
Posisi 2, jml backlink = 390,625
Posisi 1, jml backlink = 1,953,125

Dan semuanya menggunakan kata kunci yang Anda inginkan. Dari sisi SEO Anda sudah mendapatkan 1,953,125 backlink dan efek sampingnya jika pengunjung web para downline Anda mengklik link itu, Anda juga mendapatkan traffik tambahan.

Nah, silahkan copy paste saja PR ini, dan hilangkan peserta nomor 1 lalu tambahkan link blog/website Anda di posisi 10. Ingat, Anda harus mulai dari posisi 10 agar hasilnya maksimal. Karena jika Anda tiba2 di posisi 1, maka link Anda akan hilang begitu ada yang masuk ke posisi 10.

Award dan PR ini selanjutnya aku berikan juga kepada Mbak Ducky dan Mbak Penny, dah segitu ajah yang penting 'Just do it no matter what's going to happen'.


Read More..