Penggalan Jurnal Kehidupan, Kisah, Inspirasi, Informasi, Tips, Opini

Kamis, 30 Desember 2010

Resolusi Cinta Jelang Pergantian Tahun

Anda tentunya telah membuat beberapa resolusi jelang tahun baru ini bukan? Seperti kebulatan tekad untuk makan makanan sehat, berolahraga lebih banyak, dan mengelola keuangan Anda dengan lebih baik lagi. Lantas bagaimana dengan menjaga cinta agar tetap romantis di tahun yang baru nanti?
Yup, tak ada salahnya mendengar kata-kata bijak tentang cinta, dan bagaimana menyegarkan kembali hubungan Anda dengan tingkat kegairahan yang baru, dari para pakar relationship.
Yuk kita ikuti apa saja saran mereka.

1. Lakukan sesuatu yang romantis setiap hari
"Tidak ada batasan berapa banyak kasih yang dapat Anda perdalam ketika Anda membuat keputusan untuk melakukan sesuatu yang romantis setiap hari dalam setahun," kata Mara Goodman-Davies, pelatih relationship dan penulis A Year of Romance. Hal ini dapat sesederhana seperti saat mengatakan "Aku cinta kamu". Ucapkan kepada kekasih Anda sebagai hadiah hanya karena, atau bahkan sekedar ia cuma melakukan pekerjaan kecil saja yang sedikit meringankan tugas Anda, karena dia super sibuk. Aksi kecil cinta seperti inilah yang menentukan dasar keromantisan dalam kehidupan sehari-hari Anda.

2. Jangan dipusingkan dengan hal-hal kecil
"Sebagian besar hal yang Anda pertengkarkan biasanya hanya karena masalah sepele," kata Sam R. Hamburg, Ph.D, seorang terapis perkawinan dan penulis Will Our Love Last? Seperti misalnya berebut channel saat menonton TV bersamanya, atau yang lainnya seperti siapa yang harus mencuci piring? Padahal cukup dengan melemparkan koin, beres bukan? Tentu saja, konflik yang serius harus ditangani secara serius pula, tetapi bagaimana untuk hal-hal yang sepele? Sangat penting untuk jangan melihat masalah dengan kaca pembesar.

3. Berikan pujian dengan tulus
"Pujian adalah makanan verbal bagi jiwa," kata Daphne Rose Kingma, penulis True Love. Melimpahi kekasih Anda dengan pujian tidak hanya meningkatkan harga dirinya, tetapi ia juga dapat mengingatkan Anda, mengapa Anda jatuh cinta dengan orang yang spesial ini. Di satu sisi, ini merupakan cerminan dari kualitas spesial Anda sendiri. "Anda tidak akan berada dalam pelukan orang yang luar biasa ini jika tidak ada sesuatu yang sangat istimewa dari Anda," ungkap Kingma.

4. Jika Anda menginginkan sesuatu, katakanlah kepadanya
"Cinta melakukan banyak hal besar yang magis, tetapi itu tidak mengubah kita menjadi penyihir psikis," kata Kingma. Jika Anda ingin liontin zamrud untuk ulang tahun ke-30 Anda, katakan saja padanya tentang keinginan Anda itu, sekalipun Anda mungkin hanya akan diberinya satu set perhiasan dari perak. Biarkan si dia tahu Anda ingin mencicipi masakan di restoran mewah, sekalipun pada kenyataannya dia hanya bisa membawa Anda ke restoran yang Anda benci. Bukan karena dia tidak mencintaimu, tetapi karena pria Anda tidak memiliki uang cukup. Banyak wanita berpikir bahwa memberitahu pasangan mereka tentang apa yang mereka inginkan seakan sesuatu hal yang tidak romantis, tapi ingat, itu keinginannya untuk membuat Anda bahagia yang membuatnya begitu istimewa.

5. Sentuh, sentuh, dan sentuhlah
"Sentuhan bukanlah sekedar pilihan untuk suatu hubungan yang baik, tetapi sangat mendasar," ujar Al Link, pelatih relationship dan asisten penulis Sensual Love Secrets for Couples. Ketika Anda memberi dan menerima kasih sayang, sentuhan sensual, membangkitkan zat kimia endorfin dan gelombang oksitosin melalui sistem saraf Anda untuk menghasilkan perasaan cinta dan kebahagiaan. Ingat, pria suka disentuh dengan cara yang non-seksual juga. Link menambahkan, "Dengan pelukan sayang atau menepuk lembut, Anda dapat memberikan kenyamanan, dan penerimaan, serta membuat ikatan yang kuat dan penuh kasih yang melampaui fisik."

Share:

Selasa, 02 November 2010

Bencana dan Politik Pencitraan


Pascabencana dalam dua bulan terakhir. Mulai gempa Wasior, gempa diringi tsunami di Kepulauan Mentawai, dan letusan Gunung Merapi, semua korban selamat sangat membutuhkan bantuan, terutama logistik, obat-obatan, pakaian dan tempat berteduh. Beruntung berbagai elemen masyarakat terpanggil memberikan bantuan kepada para korban. Bantuan juga datang dari pemerintah.

Namun sayang, di balik derita para korban masih saja ada pihak yang tega bertindak tanpa mempertimbangkan etika moral. Seperti yang diberitakan di beberapa media massa, di tengah lokasi bencana dan pengungsi Merapi sekarang ini, ratusan spanduk berbagai merk seperti provider telepon seluler, makanan dan minuman, otomotif, bank swasta, dan merk produk lain seolah berlomba memasang spanduk, baligo dan umbul-umbul di lokasi bencana. Bahkan para kontestan pemilihan (parpol dan ormas) pun tak mau ketinggalan, mereka berlomba membentangkan spanduk dengan ukuran besar dan benderanya berkibar-kibar di udara.

Ya... Tujuannya tentu saja mendompleng nama di tengah duka korban hembusan awan panas Merapi. Bantuan yang mereka berikan seolah ditunggangi tendensi keuntungan dan kekuasaan. Betapa ironis dan memilukan sekali, di tengah kesedihan warga Merapi kekuatan kapital dan parpol tetap tak punya hati, mencoba menangguk keuntungan dan kekuasaan dengan cara-cara keji. Mereka larut dalam politik pencitraan (imagologi politic) yang tengah marak dalam lima tahun terakhir.

Membantu memberikan kebutuhan pokok tersebut seharusnya menjadi perhatian para parpol. Bukan malah ikut-ikutan berlomba-lomba memasang atau membentangkan spanduk di sekitar pengungsian. Pola tersebut justru melahirkan rasa tidak empati kepada masyarakat, terutama yang berada di pengungsian.

Bila mereka memiliki nurani ingin meringankan beban para korban, mengapa juga harus memasang spanduk atau media lainnya saat melakukan aksi kemanusian? Masyarakat tidak membutuhkan bentangan spanduk, baligo atau bendera mereka berkibar-kibar diudara. Yang diharapkan para pengungsi adalah kebutuhan pokok, selimut, obat-obatan dan tempat tinggal yang layak.

Sungguh "Dalam kekalutan masih banyak tangan yang tega berbuat nista..."

Share:

Sabtu, 30 Oktober 2010

Jabatan Dalam Paradigma Baru Terhadap Pekerjaan

Dalam bekerja, sikap masa bodoh atau tidak peduli pada bagian lain, sudah tidak bisa diterapkan lagi sekarang. Karena itu sebenarnya sama saja dengan bunuh diri. Mengapa? Karena kita perlu melihat pekerjaan sebagai set of skills yang bisa diaplikasikan dengan kombinasi yang berbeda-beda terhadap situasi kerja yang berbeda pula.


Kita sadari betapa dunia kerja semakin lama semakin kompleks, dan semakin bervariasi. Maka seseorang juga perlu memilih bidang spesifik lainnya. Atau bila kita bekerja di sebuah perusahaan besar, kita lebih baik melihat tugas kita sebagai proyek-proyek, atau kontrak-kontrak yang harus tuntas dan bernilai tambah.

Setidaknya dengan begitu, kita telah membangun jaringan (networking) secara berkesinambungan baik di dalam maupun di luar lingkup perusahaan. Selain itu kita justru mendapat kesempatan untuk membuka wawasan dan melihat kesempatan bagi pengembangan diri kita.

Dan kita juga harus berhati-hati agar tidak terjebak pada semata-mata menjalankan tugas sesuai job description, karena pedoman kerja itu juga bisa menjebak kita memandang pekerjaan sebagai "tugas", dan bukan sebagai ajang berkreasi atau value creating yang menyenangkan, fresh, unik, dan bisa berkembang sesuai dengan tantangan dan tuntutan pasar.

Kita tahu bahwa mengejar jabatan, dan merasa lega ketika mencapainya sekarang justru sudah dianggap sebagai paradigma kuno, kerangka berpikir 'djadul' yang merupakan awal dari stagnasi karir.

Titel pekerjaan, seperti dokter, insinyur, bankir, manajer, bahkan direktur, dulu sering membuat kita terpukau. Namun dalam dunia kerja yang kompleks, kita tahu titel pekerjaan menjadi tidak terlalu berarti lagi.

Ya... Jabatan perlu kita sikapi secara enterpreneurial untuk menciptakan kesempatan lebih lanjut.



Share:

Jumat, 29 Oktober 2010

Anak, Salah Satu Investasi Akhirat yang Gemilang

Maraknya berita anak dibuang sudah pasti membuat kita miris. Betapa tidak, seorang anak yang notabene adalah amanah dari Yang Maha Kuasa ditelantarkan begitu saja. Bukankah bagi seorang anak, pahlawan yang agung adalah seorang dewasa yang berlutut membantunya, seraya berbisik "aku sangat menyayangimu", dan berharap pahlawan yang agung itu adalah orang tua mereka?

Seorang anak adalah "Permata Hati". Keberhasilan orang tua dalam mendidik anak dan menghiasi anak dengan akhlak mulia merupakan sebuah kesuksesan mengkonstruksi hidup dalam bingkai kebahagiaan. Ia bisa menjadi penyejuk mata, dan penentram hati bagi kedua orang tuanya, dan masyarakat yang ada disekitarnya.

Anak yang sholih (cerdas hati dan pikiranya) inilah yang akan menjadi penyambung kebahagiaan hakiki bagi orangtuanya di akhirat kelak. Ia adalah investasi akhirat yang gemilang. Lantas mengapa ia disia-siakan, diterlantarkan, atau bahkan dibuang begitu saja seperti membuang sampah yang tidak berguna? Betapa tega, dan berdosanya orang tua seperti itu.

Maka bisa pula yang terjadi justru sebaliknya (anak membuang orang tuanya), Liputan6.com, "Astaga, Ada Anak Membuang Ibunya". Hukum karma? Wallahualam... Tapi coba kita simak sejenak cerita berikut ini;

Suatu hari hiduplah sepasang suami istri bersama satu orang putra. Mereka tinggal bersama dengan kedua orangtuanya yang sudah lanjut usia dan buta. Pada awalnya keluarga tersebut hidup dengan tentram dan damai. Sang anak melakukan kewajiban merawat orangtuanya dengan sabar dan penuh bakti. Demikian juga dengan sang menantu, ia selalu setia mengikuti petunjuk sang suami. Tahun demi tahun pun berlalu. Belakangan, keluarga tersebut mengalami keretakan, dan berakhir dengan peristiwa yang sangat menyedihkan.

Suatu hari sang istri mulai merasa bosan merawat mertuanya yang sudah jompo dan buta tersebut. Ia mulai mencari cara untuk menyingkirkannya dari rumah mereka. Akhirnya ia mendapatkan sebuah cara yang amat keji. Tanpa ragu ia pun mengajak suaminya untuk menyingkirkan kedua orangtuanya. Sang istri mulai mendesak.

Istri : ”Pa, saya sangat bosan merawat orangtuamu itu. Mereka berdua sangat menyebalkan dan merepotkan aku. Aku minta singkirkan saja mereka dari rumah kita.”

Suami : ”Lho kenapa? Mereka kan orangtuaku, mereka sudah merawat dan membesarkan aku sampai saat ini. Bagaimana mungkin aku menyingkirkan mereka? Tidak, aku tidak akan menelantarkan orangtuaku…!”

Istri : ”Aku minta tolong singkirkan mereka dari rumah ini pa…!”

Suami : ”Tidak… itu perbuatan yang durhaka… aku tidak mungkin melakukannya…!”

Istri : ”Kalau begitu pilih salah satu saja…! Singkirkan orangtuamu atau aku yang pergi dari rumah ini untuk selama-lamanya”

Sang suami bagaikan memakan buah simalakama. Ia sangat menghormati dan berbakti pada orangtuanya. Namun ia juga sangat menyayangi istrinya. Ia tidak ingin kehilangan keduanya, tetapi sulit baginya untuk memutuskan. Setelah lama ia berpikir dan menimbang, akhirnya sang suami bersedia mengikuti kemauan istrinya. Rencana jahat mulai dilakukan berawal dari kebodohan sang istri.

Suami : ”Sekarang bagaimana aku melakukannya?”

Istri : ”Gampang Pa… Bilang saja pada orangtuamu, bahwa kamu mau mengajak mereka jalan-jalan ke suatu tempat.”

Suami : ”Lantas… bagaimana cara membawanya?”

Istri : ”Sekarang Papa bikin saja keranjang lalu gendong mereka dengan keranjang tersebut dan ketika tiba di hutan ditinggal saja di sana. Dengan begitu biar saja mereka dimakan harimau atau mati kelaparan. Yang penting sekarang kita terbebas dari kewajiban mengurus mereka. Bereskan?”

Sang suami mulai membuat sebuah keranjang. Di sudut ruangan, anaknya yang berusia lima tahun sedang memperhatikannya dan bertanya dengan polos.

Anak : ”Ayah sedang bikin apa?”

Ayah : ”Ayah sedang bikin keranjang nak.”

Anak : ”Untuk apa ayah bikin keranjang?”

Ayah : ”Untuk menggendong kakekmu sewaktu kita rekreasi nanti nak.”

Anak : ”Nanti kalau sudah selesai dipakai, tolong ayah simpan baik-baik di kamar ayah ya!”

Ayah : ”Lah untuk apa anakku sayang?”

Anak : ”Untuk nanti kalau ayah sudah seperti kakek, saya akan menggendong ayah berekreasi dengan keranjang itu juga ayah, biar saya tidak usah repot-repot bikin keranjang lagi kan? Ingat ya ayah!”

Sang ayah merenungkan kata-kata anaknya tadi. Hati sang ayah bergejolak, tangannya gemetar dan akhirnya ia pun menghentikan niat dan rencananya untuk membuang orangtuanya. Rupanya, kata-kata sang anak yang begitu polos telah menyadarkannya dari perilaku yang menyimpang. Ia teringat tentang hukum karma, hukum sebab akibat yang akan terus berputar. Ia pun memeluk anak semata wayangnya penuh kasih sayang dengan satu harapan "semoga anakku menjadi anak yang berbakti terhadap orangtua".

Demikianlah, hukum karma akan selalu berproses dan berlaku universal. Apakah orang percaya atau tidak, sadar atau tidak, diakui atau tidak, hukum karma universal ini akan bekerja sesuai alurnya kepada siapa saja tanpa kecuali.



Share: