Penggalan Jurnal Kehidupan, Kisah, Inspirasi, Informasi, Tips, Opini

Minggu, 15 Maret 2009

Siklus Perjalanan Hidup


Momentum

Waktu selalu mengingatkan jiwa akan rotasi hidup ini. Kehidupan yang nyata berjalan, sebagaimana siang dan malam menjadikan bukti kehidupan tak pernah diam.
Sebuah rotasi, sebuah perjalanan, itulah hidup ini. Siang dan malam adalah siklus keharusan yang silih berganti. Kemarin, esok, lusa ataupun hari ini adalah siklus perjalanan hidup yang sekalipun kadang kita merasa terasingkan atau terpojokkan didalamnya, namun itu bukan merupakan akhir dari siklus perjalanan hidup.

Kehidupan tidak pernah berhenti di satu titik (v), adakalanya memang kita merasa terasingkan atau terpojokkan (m). Tetapi itu bukanlah akhir dari segalanya (P).



Kesimpulan :
Kehidupan selalu berputar. Maka saat kita merasa terasingkan atau terpojokkan, itu bukanlah akhir dari segalanya.


Salam tulus,
Image Hosted by ImageShack.us
Share:

Sabtu, 07 Maret 2009

Ketulusan


Relativitas Dilatasi Waktu

Ketulusan memang lebih mudah diucapkan dan dituliskan daripada dipraktekkan sebab ia berasal dari lubuk hati yang paling dalam, yang hanya memberi dan tak pernah berharap akan mendapatkan balasan.

Mengukur sebuah ketulusan memanglah rumit, karena ia bias dan baru terlihat akurat seiring putaran waktu (Dt). Ia sangat dipengaruhi oleh gerak relatif kerangka (v), dan kecepatan cahaya (c). Dan malah kadang baru terukur ketika ia telah menjadi kerangka diam (Dto).

Maka rumus menghitung ketulusan :

Dt = Dto / Ö(1 - v²/c²)


Kesimpulan :
Ketulusan memang sulit dibuktikan. Ia biasanya hanya akan terlihat seiring perjalanan waktu. Bahkan kerap terbukti ketika yang bersangkutan telah tiada.


Salam tulus,
Image Hosted by ImageShack.us
Share:

Sabtu, 28 Februari 2009

Nikmatnya Sebuah Proses


Memilih mengambil jalan pintas (shortcut) atau ingin serba instan, sebuah kebiasaan yang tumbuh dan berkembang subur sehingga menjadi sebuah fenomena yang mengkhawatirkan. Sebagian orang sekarang lebih memilih untuk melalui jalan pintas ketimbang memilih melalui jalan semestinya untuk meraih keberhasilan, parahnya lagi pilihan mengambil jalan pintas tersebut biasanya selalu bersinggungan dengan "aturan hukum" ataupun "aturan sosial" yang ada.
Terlepas dari banyak faktor yang mendasari sebagian orang memilih jalan pintas, ada baiknya jika kita lebih mengarifi hidup ini, mengatur kembali mind-set (pola pikir) kita sehingga kita tidak terjebak dalam keberhasilan semu.

Berangkat dari sana gue memahami bahwa;

Selalu, keberhasilan yang paling manis adalah keberhasilan yang dicapai melalui kesulitan dan penderitaan. Dalam sebuah usaha, memang wajar akan mengalami kesuksesan dan kegagalan tetapi proses yang berlangsung lambat dan alami adalah yang paling nikmat. Bukan dari sebuah lonjakan kesuksesan yang begitu drastis, jika diperoleh dalam tempo yang terlalu singkat, apalagi dengan cara-cara yang tidak wajar, maka biasanya akan diikuti oleh kejatuhan yang curam dan dalam tempo yang singkat pula.
Bila semuanya mudah, maka keberhasilan tidak bisa disebut keberhasilan. Ia biasanya disebut “.......... , ya pantas aja!” atau “hm.., jangan-jangan.......!”

Ingatlah, keberhasilan mengatasi kegagalan, membuat keberhasilan kita selanjutnya bukanlah sebuah kebetulan. Sebuah proses, sebagaimanapun kacaunya, jika tetap fokus pada kebaikan, maka hasilnya pun akan memuaskan. Dan imbalan mulia, yang namanya 'keberhasilan' itu, patuh kepada hukum alam. Alam menghormati mereka yang bersikap baik. Alam akan tergopoh-gopoh membuka pintu-pintu kesempatan yang beragam di sepanjang perjalanan baik yang mereka lalui.

Sebuah kehidupan, tidak akan pernah berhenti diam di satu titik, tetapi akan terus berputar selama kehidupan itu masih ada. Maka tidak ada yang selamanya berada di puncak dan tidak ada yang selamanya berada di dasar dalam kehidupan ini. Semuanya mengalami naik turun. Apabila kesuksesan ada maka pastilah kegagalan mengintai. Dan apabila kegagalan ada maka pastilah kesuksesan ada di baliknya.

Salam tulus,
Image Hosted by ImageShack.us
Share:

Minggu, 15 Februari 2009

Betapapun Gue Enggan Karena Gue Terlalu Cinta

Penggalan Gemerisik Ilalang, Sayup Di Telinga Membekas Di Rongga Dada (4)

Telah gue pendam kesedihan ini jika rumput pun enggan tumbuh di sini. Sehingga jikalau air mata ternyata lebih menghilangkan dahaga, telah tiba saatnya gue harus mereguknya. Biarlah hujan disana telah melanda, biarlah gerimis disini tak kunjung tiba, sebab mungkin gue harus putuskan rasa. Betapapun gue enggan karena terlalu terbiasa...

Juga telah gue simpan cita ini jika asa pun tak bersahabat. Sehingga jikalau mimpi ternyata lebih sekedar bunga tidur, telah tiba saatnya gue harus pejamkan mata. Biarlah gue cintai heningnya pagi, biarlah gue cintai dinginnya malam, sebab mungkin gue harus putuskan pengharapan. Betapapun gue enggan karena terlalu berharap...

Maka telah pula gue cukupkan cinta ini jika kenyataan pun begitu menyakitkan. Sehingga jikalau menyendiri ternyata lebih menentramkan hati, telah tiba saatnya gue harus sendiri. Biarlah titian lama putus sebelum gue sampai, biarlah tak ada titian baru karenanya, sebab mungkin gue harus putuskan buat berhenti. Betapapun gue enggan karena terlalu gue cinta...

(dari rasa yang terlalu)
Image Hosted by ImageShack.us
Share: